TANJUNG SELOR – Target tinggi diberikan kepada Partai Golkar Kaltara dalam menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2029 dan tahun 2030 mendatang. Tak main-main, target itu datang langsung dari Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Bahlil Lahadalia usai membuka Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kaltara, Minggu 30 November 2025.
Kata Bahlil, dia mendorong partainya melakukan transformasi strategi untuk meraih pemilih usia 17–50 tahun yang diperkirakan mencapai 72 persen pada Pemilu 2029. Menurut Bahlil, Musda Partai Golkar kali ini harus berfungsi sebagai forum konsolidasi politik.
Dijelaskan pria yang juga menjabat Manteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu, saat ini Partai Golkar memandang perubahan demokrasi pemilih sebagai momen strategis yang menentukan arah politik jangka menengah. Dengan proyeksi 72 persen pemilih berada di rentang usia produktif 17–50 tahun pada 2029, partai dituntut tidak hanya menyesuaikan pesan kampanye tetapi juga dalam bentuk keterlibatan politiknya. Pendekatan yang diusulkan Bahlil, mengedepankan fungsi dan program daripada sekadar struktur organisasi.
“Maka tidak ada cara lain adalah Golkar harus melakukan strategi inovatif untuk bagaimana merekrut dan meraih simpati pemilih yang mayoritas itu,” ujarnya dalam sambutan yang dia sampaikan saat Musda DPD Golkar Kaltara di Tanjung Selor, Minggu 30 November 2025.
Bahlil juga memberikan sinyal bahwa Partai Golkar akan mengintensifkan aktivitas komunikasi dua arah, menyampaikan janji politik sekaligus mendengarkan keluhan dan aspirasi kaum muda secara terukur dan berkelanjutan. Secara operasional, kata dia, konsolidasi akan dilakukan dari provinsi hingga kecamatan dan akan diterjemahkan ke dalam beberapa langkah praktis, mulai dari penguatan pengurus kecamatan dan desa sebagai basis relawan.
Selanjutnya, kata Bahlil, pihaknya juga akan melakukan pengembangan program kaderisasi yang memadukan pelatihan kepemimpinan dengan keterampilan ekonomi. Serta kampanye digital yang menargetkan platform populer generasi muda. Selain itu, Partai Golkar juga akan fokus pada program-program lokal yang nyata seperti inkubasi usaha mikro, beasiswa pendidikan vokasi, atau forum aspirasi pemuda diproyeksikan menjadi alat ukur efektivitas dalam meraih simpati dan dukungan di level akar rumput.
Bahlil juga menekankan pentingnya pendekatan fungsional bukan hanya struktural meliputi komunikasi vertikal dan horizontal serta program kaderisasi yang mampu menarik minat generasi muda. Target DPP Partai Golkar, menurutnya, adalah penambahan kursi di semua tingkatan legislatif sebagai ukuran keberhasilan kepengurusan.
Dia kemudian menginstruksikan rehabilitasi dan evaluasi kepengurusan DPD II serta memperkuat pengurus kecamatan dan desa untuk menjaga mesin politik Golkar tetap hidup di akar rumput.
“Partai siapa yang survive adalah partai yang bisa menarik hati perasaan anak-anak muda,” kata Bahlil.
Bukan tanpa tantangan, Bahlil juga menyatakan banyak tantangan yang harus diantisipasi seluruh kader Partai Golkar, salah satunya adalah adalah fragmentasi preferensi politik generasi muda dan kebutuhan dalam menghadirkan narasi pemerintahan yang relevan dengan keseharian mereka. Hal itu, kata dia, bisa hadir dengan lapangan kerja, akses pendidikan dan pelatihan, serta layanan publik yang cepat dan transparan.
Untuk itu, tekannya, evaluasi berkala terhadap kinerja DPD II dan rehabilitasi struktur organisasi bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan langkah penting agar mesin politik partai tetap adaptif terhadap dinamika lokal dan nasional. Jika implementasi instruksi ini konsisten dan terukur, lanjutnya, hasilnya bukan hanya penambahan kursi legislatif yang menjadi target DPP, tetapi juga pembentukan citra Golkar sebagai partai yang mampu bertransformasi menjadi lebih relevan bagi generasi produktif.
“Musda DPD Kaltara yang digelar kini berpotensi menjadi model uji bagi strategi tersebut, dengan catatan bahwa janji konsolidasi harus diikuti peta jalan program konkret dan indikator keberhasilan yang jelas menuju Pemilu 2029,” imbuhnya. (idq)



