TARAKAN — Kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi dan kebakaran gedung di fasilitas kesehatan digelar RSUD dr Jusuf SK. Kegiatan yang dipandu dan oleh diuji Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara dilakukan dengan glad simulasi vertical rescue.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Utara, Andi Andiampa menjelaskan, simulasi ini dirancang untuk menguji kesiapan respons cepat sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam situasi darurat. Simulasi lintas instansi ini juga menitikberatkan pada kecepatan respons, koordinasi, serta kemampuan evakuasi korban dari gedung bertingkat dalam kondisi darurat.
“Gladi simulasi vertical rescue sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa bumi dan kebakaran bangunan, terutama di rumah sakit yang memiliki risiko tinggi,” ujar Andi Andiampa.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut diikuti berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur Forkopimda, instansi vertikal, hingga perwakilan DPRD Provinsi Kalimantan Utara. Simulasi secara resmi dibuka oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat mewakili Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.
Menurut Andi, pelaksanaan simulasi tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga menguji kesiapan mental dan keterampilan personel di lapangan. Latihan semacam ini dinilai penting mengingat bencana dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan.
“Respons cepat itu tidak datang dengan sendirinya. Perlu latihan yang berulang untuk mengasah keterampilan sekaligus membangun mental para petugas saat menghadapi situasi darurat,” katanya.
Dalam simulasi tersebut, skenario evakuasi korban dilakukan menggunakan teknik vertical rescue dari lantai atas gedung karena akses tangga darurat tidak dapat digunakan. Namun demikian, Andi mengakui masih terdapat sejumlah catatan evaluasi yang perlu diperbaiki ke depan.
“Kedepan, pematangan skenario dan penentuan lokasi harus lebih detail. Tadi korban diturunkan dari lantai enam ke lantai empat, padahal idealnya bisa langsung dievakuasi ke lantai satu agar tidak memerlukan tahapan evakuasi lanjutan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya penyusunan rencana kontingensi dan rencana operasi yang matang dalam setiap simulasi kebencanaan, tidak hanya untuk gempa bumi dan kebakaran, tetapi juga seluruh jenis potensi bencana.
“Semua kejadian bencana membutuhkan rencana kontingensi dan rencana operasional yang jelas agar personel benar-benar siap saat bertugas,” tegasnya.
Andi juga mendorong setiap rumah sakit di Kalimantan Utara untuk segera membentuk tim siaga bencana internal beserta kelengkapan sarana dan prasarana pendukung. Menurutnya, kegiatan simulasi tidak cukup dilakukan sekali atau dua kali, tetapi harus berlangsung secara rutin.
“Latihan berkala ini penting untuk membangun kesiapsiagaan personel, edukasi bagi tenaga kesehatan, bahkan pemahaman awal bagi pasien dalam menghadapi kondisi darurat,” tambahnya.
Terkait sarana dan prasarana, Andi mengakui masih terdapat kebutuhan peralatan yang perlu dilengkapi. Oleh karena itu, kolaborasi dengan instansi vertikal lain dinilai penting untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat penanggulangan bencana di lapangan.

Sementara itu, Koordinator Tim Fire and Rescue RSUD dr H Jusuf SK, Martinus Amir mengungkapkan, keterlibatan tim rumah sakit dalam simulasi tersebut awalnya bersifat partisipatif, namun kemudian dilibatkan langsung dalam proses evakuasi.
“Sebenarnya dari rumah sakit hanya sebagai peserta. Tapi karena tim K3 memiliki unit fire and rescue, akhirnya kami ikut terlibat langsung meskipun sifatnya cukup mendadak,” ungkap Martinus.
Ia menjelaskan, skenario simulasi menggambarkan kondisi korban terjebak akibat gempa atau kebakaran sehingga tidak memungkinkan dievakuasi melalui tangga atau lorong evakuasi. Korban kemudian diturunkan menggunakan teknik wrapping sebelum dibawa ke IGD.
“Tugas tim BPBD menurunkan korban, sedangkan kami dari rumah sakit menyambut dan membawa korban sampai ke IGD,” jelasnya.
Menurut Martinus, tidak ditemukan kendala berarti selama simulasi berlangsung. Namun ia menilai kekompakan tim tetap menjadi faktor krusial, terutama jika simulasi tersebut diterapkan pada kondisi bencana yang sebenarnya.
“Kalau latihan tentu lebih terkendali. Dalam kondisi riil bisa saja ada asap, reruntuhan, atau kepanikan. Tapi secara tim, kekompakan sudah cukup solid,” ujarnya.
Ia menambahkan, simulasi kebencanaan merupakan bagian dari standar akreditasi rumah sakit yang wajib dilaksanakan secara rutin, minimal dua kali dalam setahun.
“Dalam standar akreditasi rumah sakit ada penanganan disaster atau kejadian luar biasa. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus dilatih agar saat bencana benar-benar terjadi, kepanikan bisa dikelola dengan baik,” pungkas Martinus.
Dalam simulasi ini, sebanyak 22 personel gabungan diterjunkan, terdiri dari BPBD Provinsi Kalimantan Utara, BPBD Kota Tarakan, serta tim K3 dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. (rz)



