TARAKAN – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tarakan mencatat sebanyak 20 operasi SAR sepanjang tahun 2025. Seluruh operasi tersebut didominasi kecelakaan di perairan. Hal ini terjadi seiring tingginya aktivitas transportasi laut dan kondisi cuaca ekstrem di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara).
Kepala Seksi Operasi Basarnas Tarakan, Dede Hariana mengatakan, secara umum jumlah operasi SAR tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. “Untuk rekapan selama setahun ini alhamdulillah menurun, ada sekitar 20 operasi SAR, dan yang paling banyak itu kecelakaan kapal. Selebihnya kondisi membahayakan manusia, itu saja rata-ratanya,” ungkap Dede.
Ia menjelaskan, sepanjang 2025 tidak terdapat kejadian bencana alam besar yang memerlukan penanganan SAR. Hampir seluruh operasi berfokus pada kecelakaan laut.
“Kalau bencana hampir tidak ada. Hampir 99 persen operasi kita di perairan, kecelakaan di laut,” jelasnya.
Wilayah perairan yang paling menjadi perhatian Basarnas Tarakan adalah Perairan Bulungan, mengingat luas wilayah serta tingginya mobilitas transportasi laut. Dalam seluruh operasi SAR yang dilaksanakan selama tahun 2025, Basarnas memastikan seluruh korban berhasil ditemukan.
“Rata-rata satu operasi satu korban, jadi total sekitar 20 orang. Ada yang selamat dan ada juga yang meninggal dunia,” ungkap Dede.
Terkait penyebab kecelakaan, Dede menyebut kelalaian dan cuaca ekstrem menjadi faktor utama. “Penyebabnya ada kelalaian, dan yang paling berpengaruh cuaca ekstrem. Cuaca di Tarakan memang tidak menentu,” ujarnya.
Ia menambahkan, Basarnas Tarakan secara rutin menerima imbauan cuaca dari BMKG yang menjadi perhatian serius dalam setiap operasi SAR. Meski cuaca sering menjadi tantangan, Dede menegaskan tidak ada kendala signifikan dalam pelaksanaan operasi SAR.
“Kalau kendala, tidak ada yang signifikan. Cuaca memang mempengaruhi, tapi itu bukan penghambat utama. Kami tetap siap, dengan tetap mengutamakan keselamatan personel,” tegasnya.
Dari sisi sarana dan prasarana, Basarnas Tarakan saat ini dinilai masih mencukupi untuk pelaksanaan siaga dan operasi SAR. Namun demikian, pihaknya tetap mengusulkan penambahan alat utama (alut).
“Kalau alut, kita tetap ada pengusulan, baik untuk di air maupun di darat. Walaupun saat ini masih cukup,” jelas Dede.
Adapun kebutuhan yang dianggap penting ke depan adalah penambahan peralatan ekstrikasi di hutan, jungle, mountaineering, serta peralatan selam. “Kalau yang urgent sebenarnya sudah terpenuhi, tinggal penambahan saja. Seperti alat ekstrikasi di hutan dan gunung, serta peralatan selam untuk operasi di perairan,” pungkasnya.
Basarnas Tarakan menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan demi keselamatan masyarakat, khususnya di wilayah perairan yang rawan kecelakaan. (rz)



