EKONOMIHUKUM & KRIMINALKALTARATARAKAN

Kerja dari Balik Lapas, Furnitur Karya WBP Siap Dukung UMKM Lokal

TARAKAN — Pembinaan di balik jeruji tak lagi sekadar rutinitas, tetapi mulai menjelma menjadi ruang lahirnya produk bernilai ekonomi. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan kini mengembangkan produk furnitur berupa kursi hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebagai bagian dari dukungan terhadap penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kegiatan perakitan kursi tersebut dilaksanakan sekira pukul 10.00 Wita, pada Rabu (14/1/2026) di lingkungan Lapas Kelas IIA Tarakan, dengan pendampingan dan pengawasan langsung dari petugas pemasyarakatan. Program ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi produktif.

Perakitan kursi ini merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, sekaligus mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada aspek pembinaan kemandirian dan pengembangan keterampilan kerja warga binaan.

Dalam pelaksanaannya, warga binaan terlibat langsung dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari persiapan bahan baku, perakitan rangka kursi, pemasangan dudukan dan sandaran, hingga proses finishing. Setiap tahapan dilakukan secara sistematis untuk memastikan kualitas produk agar layak pakai dan memiliki nilai jual.

Produk furnitur yang dihasilkan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas UMKM berbasis keterampilan pertukangan. Selain melatih kemampuan teknis, kegiatan ini juga memberikan pemahaman tentang proses produksi dan peluang usaha di sektor furnitur.

Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri menegaskan, pembinaan kemandirian berbasis UMKM menjadi salah satu fokus utama pembinaan di Lapas Tarakan. Mereka menginginkan warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi dibekali juga keterampilan yang nyata dan bernilai ekonomis.

“Melalui kegiatan perakitan furnitur ini, mereka belajar dari proses awal hingga produk siap dipasarkan,” ujar Jupri.

Ia pun berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal penting bagi warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat. “Inilah esensi pembinaan pemasyarakatan yang berorientasi pada reintegrasi sosial,” tambahnya.

Melalui program ini, Lapas Kelas IIA Tarakan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga berperan aktif dalam mencetak sumber daya manusia produktif yang siap berdaya saing dan mendukung ekonomi lokal. (rz)

Berikan komentarmu!
Show More
Back to top button