TARAKAN — Target penerimaan negara yang dicanangkan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tarakan tahun mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Mereka dipatok target Rp600 miliar, atau meningkat hampir 20 kali lipat dibanding realisasi tahun lalu.
“Dari sekarang sekitar Rp35 miliar, jadi naiknya hampir 20 kali lipat,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Tarakan, Wahyu Budi Utomo.
Ia menjelaskan, pada tahun sebelumnya penerimaan Bea Cukai Tarakan berasal dari bea masuk sekitar Rp28 miliar dan bea keluar nilainya hingga ratusan miliar rupiah. “Bea keluarnya yang cukup tinggi. Kalau tidak salah totalnya di kisaran 600-an miliar,” jelasnya.
Menurut Wahyu, untuk mengejar target tersebut, pihaknya masih melakukan identifikasi sumber-sumber penerimaan baru. Salah satu potensi terbesar berasal dari bea keluar batu bara. Namun, hingga kini pihaknya masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat.
“Kalau harapannya, kemarin pemerintah mau mengenakan biaya keluar batu bara. Tapi petunjuk teknisnya belum ada. Jadi kita masih menunggu,” katanya.
Ia menyebutkan, besaran bea keluar nantinya kemungkinan akan dihitung berdasarkan tonase, sehingga penerimaan sangat bergantung pada volume ekspor dan dinamika pasar global.
“Kalau sudah ditetapkan per tonnya berapa, baru bisa kita hitung potensinya. Itu pun tergantung pembeli dan harga global, karena batu bara ini fluktuatif,” ujarnya.
Wahyu mencontohkan, konflik global seperti perang Rusia–Ukraina, pernah mendorong lonjakan permintaan energi dan berdampak langsung pada peningkatan bea keluar. “Dulu sempat disebut pemerintah seperti dapat durian runtuh. Tapi kalau suplai energi dunia sudah stabil, penerimaan bisa turun lagi,” jelasnya.
Meski demikian, Wahyu mengaku, struktur ekonomi Tarakan dan sekitarnya membuat penerimaan dari bea masuk relatif kecil. Pasalnya, volume impor barang kena bea sangat terbatas sehingga pihaknya harus kreatif dan bisa mengidentifikasi banyak sumber pendapatan. Di sisi lain, Bea Cukai Tarakan juga terus mendorong ekspor UMKM, meskipun sektor perikanan dan agro tidak dikenakan bea keluar.
“Perikanan tidak kena bea keluar. Hasil agro juga tidak kena apa-apa. Secara fiskal nol. Tapi dampak ekonominya besar,” tegas Wahyu.
Menurutnya, ekspor memberikan manfaat tidak langsung berupa devisa, peningkatan ekonomi lokal, serta rekam jejak usaha yang baik bagi pelaku UMKM.
“Dengan dokumen ekspor, pengusaha punya rekod bagus di perbankan. Mau kredit, bank pasti tanya, sudah pernah ekspor ke mana, mana dokumennya,” ujarnya.
Wahyu juga menyebut, potensi ekspor produk hasil laut di Kalimantan Utara sangat besar, sehingga dinilai potensial untuk mendapat perhatian. Kepiting Kenari, beber Wahyu, menjadi hasil laut Kaltara nomor satu yang disukai di Singapura.
“Belum lagi rumput laut, ikan, dan produk lain yang sebenarnya sangat potensial,” katanya.
Saat ini, ekspor UMKM dari wilayah Tarakan dan Berau telah berjalan melalui kerja sama dengan maskapai Batik Air dan AirAsia. Soal dokumen, kata Wahyu, selalu dipermudah oleh pihaknya. Sementara, untuk pasar jarak dekat seperti Tawau, Malaysia, pengiriman dapat dilakukan melalui jalur laut cepat.
“Kalau ke Tawau bisa pakai speedboat, dekat. Kalau Singapura atau Jepang harus pakai pesawat,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Wahyu juga mengungkap peran sentral pemerintah dalam mendukung upaya mereka. Salah satunya adalah mengajak pelaku UMKM untuk aktif mengikuti pelatihan dan pameran luar negeri yang difasilitasi pemerintah.
“PR kita itu jumlah UMKM yang ekspor masih sedikit. Makanya kita rajin datang, ayo belajar ekspor. Potensinya luar biasa,” pungkas Wahyu. (rz)


