Pastikan Kota Tarakan Kondusif dari Radikalisme, Kemenag Sebut Moderasi Beragama Jadi Kunci
TARAKAN — Meski terbilang maju dan makin padat penduduk, Kota Tarakan masih dalam suasana kondusif dan bebas dari paham radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme. Hal ini dipastikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tarakan, H. Syopyan saat ditanya wartawan terkait kondisi keamanan Kota Tarakan belum lama ini.
Pernyataan tegas itu, kata Syopyan, merupakan hasil ikhtiar bersama seluruh elemen masyarakat yang terus memperkuat edukasi dan pemahaman keagamaan yang moderat.
“Ini tentu ikhtiar kita semua, baik melalui edukasi kepada masyarakat maupun program-program yang kami jalankan di Kementerian Agama,” ujar H. Syopyan.
Ia menjelaskan, sejak tahun 2018, Kementerian Agama secara konsisten mengembangkan Program Moderasi Beragama sebagai upaya pencegahan dini terhadap paham keagamaan yang menyimpang. Program ini menekankan pentingnya cara beragama yang berada di jalan tengah, tidak ekstrem dan tidak berlebihan.
“Moderasi beragama itu bukan memoderasi agamanya, karena agama itu sudah moderat. Yang menjadi persoalan adalah cara beragamanya. Maka yang kita perbaiki adalah cara beragama masyarakat agar tetap berada di tengah, tidak radikal dan tidak liberal,” tegasnya.
Menurut Syopyan, pemahaman moderasi beragama dimulai dari internal Kementerian Agama, khususnya seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN), penyuluh agama, dan tenaga pendidik. Seluruh guru di bawah naungan Kemenag, kata dia, juga telah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) moderasi beragama.
“Semua guru kita sudah didiklat moderasi beragama. Penyuluh agama juga kita bekali pemahaman yang sama, sehingga saat memberikan penyuluhan kepada masyarakat, nilai-nilai moderasi ini benar-benar tersampaikan dengan baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan moderasi beragama juga menjadi bagian dari perjanjian kinerja Kemenag dengan kantor wilayah dan pusat. Targetnya adalah terwujudnya masyarakat yang moderat dalam seluruh aspek kehidupan beragama, mulai dari siswa, pendidik, hingga masyarakat umum lintas agama.
“Semua agama kita dorong melakukan hal yang sama. Moderasi beragama ini bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh pemeluk agama agar relasi antarumat beragama bisa berjalan harmonis,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Kemenag Tarakan juga aktif menjalin kerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Bahkan, keberadaan gedung FKUB disebut sebagai simbol penguatan nilai moderasi di tengah masyarakat.
“Di sanalah nilai-nilai moderasi dibumikan agar relasi beragama benar-benar tercermin dalam perilaku keseharian masyarakat,” ujarnya.
Sebagai daerah perbatasan, Tarakan dinilai memiliki potensi kerawanan tersendiri, terutama karena menjadi wilayah persinggahan dari berbagai latar belakang. Namun, Syopyan memastikan langkah antisipasi terus dilakukan, termasuk koordinasi dengan aparat dan lembaga intelijen.
“Kami tentu bekerja sama dengan BIN, BAIS, dan institusi terkait lainnya. Sampai sekarang tidak ada laporan kegiatan radikalisme di Kota Tarakan. Alhamdulillah situasinya cukup kondusif,” pungkasnya.
Dengan penguatan moderasi beragama yang berkelanjutan, Kemenag Tarakan optimistis potensi radikalisme dan terorisme dapat terus ditekan, sekaligus menjaga Tarakan sebagai kota yang aman, toleran, dan harmonis di wilayah perbatasan. (rz)


