KALTARANASIONALNUNUKAN

Mereka yang Menembus Hutan dan Bahaya Demi Gemburnya Sawah Perbatasan

Bawa Bantuan Pemerintah Lewati Jalan Rusak, Berhari-hari Baru Sampai Krayan

Di balik deru mesin traktor yang kelak menggemburkan sawah-sawah warga Krayan, ada kisah panjang tentang perjalanan, pengorbanan, dan tekad menghadirkan negara hingga ke tapal batas. Dan harus dicatat, itu dilakukan oleh Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Nunukan.

SYAMSUL BAHRI, satukaltara.com

KECAMATAN Krayan bukan sekadar wilayah di peta Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). Ia adalah beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wajahnya gagah, namun terlihat sayu kala dihadapkan pada negara tetangga, Malaysia yang semuanya ada. Tanahnya kaya akan budaya, namun jauh dari pusat kota. Bila ke sana menggunakan pesawat perintis, mungkin agak mudah. Namun, bila memilih jalur darat, di sinilah letak tantangannya.

Wilayah yang sudah mekar menjadi beberapa kecamatan ini dikelilingi hutan lebat, medan yang berat dan akses jalan yang sangat terbatas. Kondisi ini kerap menguji kesabaran siapa pun yang ingin mencapainya. Termasuk aparatur dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Nunukan yang ditugaskan mengantar puluhan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) dari Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia ke Krayan beberapa hari lalu.

Bagi warga Kaltara, siapa pun yang ingin ke sana melalui jalur darat harus berpikir 2 kali. Melalui darat, pasti dirasa tidak mungkin. Satu-satunya cara adalah menggunakan pesawat perintis yang tarif tiketnya lumayan mengusik kantong siapa saja. Namun, puluhan Alsintan bantuan dari Kementan ini harus dibawa melalui jalur yang sangat menyulitkan tersebut. Sebuah pilihan berat dan membahayakan, namun harus dijalankan.

Ya, bukan rahasia lagi, jalan ini merupakan jalan yang baru dibuka beberapa tahun lalu. Belum semua di-agregat. Masih tanah. Bila hujan, pasti becek. Biasanya ada yang longsor dan berlubang. Bila menanjak, sangat menanjak. Bila menurun, sangat curam. Jalannya juga berkelok, dan tentu saja panjangnya 200 kilometer lebih. Sangat jauh dan memakan waktu.

Tapi bukan aparatur DKPP Kabupaten Nunukan namanya kalau tidak mampu menembus jalan panjang tersebut. Melalui video yang didapatkan media ini, aparatur tersebut terlihat agak kesulitan menerabas jalan yang di kanan-kirinya hutan belantara.

Ada momen mereka terlihat enjoy saat hujan lebat. Terlihat biasa saja saat gerimis mengganggu pandangan mereka dan kadang terlihat meringis saat panas menambah dahaga. Mereka memang terlihat bahagia mengabarkan perjalanan tersebut, namun kenyataannya mereka harus berhadapan dengan kesulitan dan mara bahaya.

Dan sudah dipastikan, perjalanan mereka akan memakan waktu berhari-hari lantaran yang dibawa ke sana bukan barang yang ringan dan mudah dibawa. Dalam catatan DKPP Nunukan, tim ini membawa 28 unit traktor roda empat yang terdiri dari 14 unit 14 unit jonder dan 14 unit rotavator. Membaca nama-nama alat ini saja, pikiran kita akan terpusat pada satu kalimat, “Sampainya pasti lambat dan lama!”

BERHENTI : Tim harus beristirahat dan menghentikan Alsintan ini sebelum melanjutkan perjalanan yang cukup memakan waktu.

Ditanya soal ini, Kepala DKPP Kabupaten Nunukan, Masniadi hanya terlihat semringah. Gurat wajah bangganya tak bisa dia sembunyikan. Ya, dia bangga dengan anak buahnya yang bekerja keras mengantar bantuan tersebut. Bukan bantuan biasa. Bantuan ini sangat diharapkan oleh masyarakat Krayan. Bahkan alat ini diyakini mampu mendorong produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah perbatasan, khususnya Kaltara.

Seluruh operator alat berat, tenaga pendamping, hingga pengawas memang diambil dari internal DKPP Nunukan. Hal ini dilakukan demi menghemat anggaran. Mereka bukan sekadar mengawal logistik, tetapi juga berhadapan langsung dengan lumpur, hujan, dan medan yang bisa berubah ekstrem dalam hitungan jam. Tak hanya itu, bahaya lain, seperti bertemu binatang buas, penyakit, kecelakaan dan lainnya juga menghantui selama perjalanan.

“Kita tugaskan pegawai kami yang siap mental dan fisiknya kuat untuk mengawal pengiriman alsintan ke Krayan. Kita tahu pengiriman ini butuh waktu belasan hari, sehingga kami bersiap untuk berkemah dan siap tidur di tengah hutan,” ungkap Masniadi.

Ternyata, bantuan ini dikirim tidak dimulai dari Malinau, melainkan dari Nunukan. Sempat beberapa hari diinapkan di Nunukan untuk didata ulang. Sesuai jadwal, bantuan ini kemudian dibawa menyeberang menggunakan LCT (Landing Craft Tank) melalui jalur Sungai Ular, Kecamatan Sei Menggaris.

Dari sana, alat-alat pertanian tersebut dilansir sedikit demi sedikit menggunakan truk menuju wilayah Kabupaten Malinau, sebelum akhirnya menembus jalur darat ekstrem menuju Krayan. Jalan yang sejak dulu didambakan oleh masyarakat Krayan. Jalan yang bisa menghidupkan wilayah perbatasan itu dari ketertinggalan. Namun sampai saat ini, jalan tersebut belum juga bisa dilalui dengan sempurna.

Masniadi menyebut tantangan terberat pertama kali muncul saat Alsintan tiba di ujung jalan beraspal perbatasan Malinau. Dari titik itu, perjalanan menuju Desa Long Semamu hingga Desa Binuang, Krayan, ibarat memasuki jalur tak bertuan. Jalan tanah akan menjelma lumpur licin, terutama saat hujan mengguyur.

“Biasanya ban mobil tertanam, dan harus ditarik menggunakan alat berat untuk bisa keluar dari jebakan lumpur,” ungkapnya.

KABUT : Selain hujan dan panas, jalan berkabut juga menjadi salah satu penghalang perjalanan ini.

Mengantisipasi kondisi tersebut, DKPP Nunukan telah berkoordinasi dengan perusahaan pemilik alat berat untuk siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Tantangan lain tak kalah serius adalah penyeberangan sungai sebelum memasuki wilayah Krayan.

“Kita akan melewati sungai sebelum masuk Krayan. Jadi kita harus memastikan apakah arus air memungkinkan dilewati atau tidak. Kalau tidak, kita menunggu sampai aman baru kita seberangkan alat-alat berat yang kita kirim,” jelas Masniadi.

Pemkab Nunukan sendiri menargetkan seluruh Alsintan tiba di Krayan dalam waktu 9 hingga 12 hari. Namun faktor cuaca yang tak menentu berpotensi membuat perjalanan molor hingga dua kali lipat dari rencana awal.

Meski demikian, harapan tetap disematkan. “Semoga Alsintan yang diberikan Pemerintah Pusat benar-benar menjadi pendukung kemajuan pertanian masyarakat Krayan,” imbuh Masniadi.

Selain 28 unit traktor roda empat yang dibawa melalui jalur darat, ada 14 unit traktor roda dua dan 10 unit rice planter dibawa melalui jalur udara. Namun, jalur udara pun bukan tanpa kendala. Pesawat komersial rute Nunukan–Krayan merupakan pesawat perintis yang tak memungkinkan pengangkutan Alsintan berukuran besar.

“Pesawat komersil tidak memungkinkan. Karena itu kami sedang berupaya meminta dukungan TNI AU,” kata pria yang juga pernah menjabat Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Nunukan tersebut. 

Masniadi juga memastikan, dia ikut langsung dalam regu pengawalan DKPP hingga Alsintan tiba di Krayan. Baginya, kehadiran langsung di lapangan adalah bentuk tanggung jawab sekaligus komitmen pemerintah kepada masyarakat perbatasan.

“Kita tahu bagaimana sulitnya menembus Krayan lewat darat. Semoga usaha kita ini dipandang sebagai salah satu bukti kehadiran pemerintah bagi masyarakat perbatasan,” katanya.

Di tengah hutan, lumpur, dan sungai yang menghadang, perjalanan Alsintan ini menjadi lebih dari sekadar distribusi alat. Ia adalah cerita tentang dedikasi, tentang negara yang berusaha hadir hingga ke ujung negeri—demi sawah-sawah Krayan tetap hidup dan berproduksi. (*)

Show More
Back to top button