EKONOMIBISNISKALTARANASIONAL

BI Sebut Investasi di Kaltara Melejit, Kredit Perbankan Makin Tumbuh

TARAKAN — Kinerja perbankan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sepanjang 2025 menunjukkan tren positif, terutama dari sisi penyaluran kredit yang tumbuh signifikan dengan kualitas yang tetap terjaga. Hal ini disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik kepada sejumlah wartawan belum lama ini.

Hasiando memaparkan, pertumbuhan kredit perbankan di Kaltara pada 2025 tercatat 68,24% secara tahunan (year on year/yoy), dengan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap berada pada level aman, yakni di level 2,14%. Berdasarkan jenisnya, lanjut Hasiando, kredit perbankan terdiri dari kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi. Dari ketiganya, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan paling tinggi, bahkan melonjak hingga 162,05%.

“Meski ada sedikit kenaikan risiko pada kredit investasi, NPL-nya masih di bawah 5 persen, sehingga tetap tergolong sehat,” jelasnya.

Menurut Hasiando, kondisi tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik, namun tetap perlu diimbangi dengan upaya menjaga kualitas kredit.

“Tentu ini harus terus dijaga oleh teman-teman perbankan agar kualitas kredit tetap baik, meskipun fungsi intermediasinya juga berjalan optimal,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hasiando mengungkapkan, pertumbuhan kredit terbesar terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan industri pengolahan. Sektor ini menjadi penyumbang terbesar terhadap total penyaluran kredit perbankan di Kalimantan Utara.

“Kalau kita lihat berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan kredit terbesar terjadi di sektor pertambangan dan industri pengolahan. Pangsa kredit untuk dua sektor ini mencapai 40,12 persen dari total kredit di Kalimantan Utara pada 2025,” ungkapnya.

Sementara itu, dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meliputi tabungan, giro, dan deposito, Bank Indonesia mencatat adanya perlambatan. Secara tahunan, DPK di Kalimantan Utara mengalami kontraksi sebesar 3,78%.

“DPK kita mengalami perlambatan atau kontraksi minus 3,78 persen. Meskipun tabungan masih tumbuh positif, namun giro dan deposito mengalami penurunan,” kata Hasiando.

Ia menjelaskan, penurunan deposito menjadi salah satu fenomena yang cukup menonjol. Salah satu faktor penyebabnya adalah pergeseran preferensi investasi masyarakat. “Deposito saat ini menjadi salah satu alternatif investasi. Namun, berdasarkan survei kami, terdapat peralihan sebagian dana deposan ke instrumen lain, seperti emas, seiring dengan kenaikan harga emas yang cukup signifikan,” jelasnya.

Meski demikian, Hasiando menegaskan bahwa penurunan DPK tidak serta-merta menghambat pembiayaan di daerah. Sumber pembiayaan perbankan juga dapat berasal dari bank-bank yang berkantor pusat di luar Kaltara, namun menyalurkan kredit untuk proyek-proyek yang berlokasi di Kaltara.

“Itu tetap tercatat dalam data penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek,” katanya.

Secara umum, Bank Indonesia menilai kondisi stabilitas sistem keuangan di Kaltara masih dalam kondisi baik dan stabil, meskipun terdapat dinamika pada sisi penghimpunan dana masyarakat.

“Secara keseluruhan, stabilitas sistem keuangan di Kalimantan Utara masih terjaga dengan baik,” pungkas Hasiando. (rz)

Berikan komentarmu!
Show More
Back to top button