UMUM

Geopolitik Global Bergejolak, BI Nilai Ekonomi Kaltara Masih Tangguh

TARAKAN – Ketegangan geopolitik global yang memicu tekanan di pasar keuangan, termasuk pelemahan rupiah dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dinilai belum berdampak signifikan terhadap perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara). Hal ini disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik belum lama ini.

Hasiando menyebut, pihaknya masih mengukur secara cermat dampak dinamika global tersebut terhadap ekonomi daerah. Menurut Hasiando, pengukuran dampak tidak bisa dilakukan secara instan. Data pertumbuhan ekonomi daerah, kata dia, dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) setiap triwulan sehingga diperlukan waktu untuk melihat pengaruh riil dari gejolak global.

“Kita perlu waktu, karena kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi itu dirilis oleh BPS tiap tiga bulan,” katanya.

Ia menjelaskan, bahkan sebelum konstelasi geopolitik terbaru terjadi, Kaltara sudah menghadapi tekanan dari sisi eksternal, terutama pada komoditas batu bara yang menjadi salah satu andalan ekspor daerah.

“Salah satu komoditas ekspor kita adalah batu bara. Batu bara ini juga sudah mulai menekan pertumbuhan kita karena porsi dari ekspor batu bara kita tinggi. Kalau demand-nya menurun, tentu salah satu komponen pertumbuhan itu akan turun,” jelasnya.

Sementara untuk komoditas lain yang berpotensi terdampak dinamika global, Bank Indonesia masih melakukan kajian lebih mendalam. Hingga saat ini, BI Kaltara belum merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Sampai saat ini kita belum mengubah perkiraan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara, karena geopolitik terakhir ini kan baru terjadi,” tegasnya.

Meski pasar keuangan nasional sempat bergejolak, Hasiando menilai struktur ekonomi Kaltara yang tidak sepenuhnya terintegrasi dengan pasar modal membuat dampaknya relatif terbatas.

“Kalau kerentanan perekonomian, saya rasa domestik dari Kalimantan Utara mudah-mudahan cukup baik untuk menahan dinamika, baik itu di domestik maupun di sektor eksternal,” ujarnya.

Ia juga optimis permintaan domestik yang kuat dapat menjadi bantalan di tengah ketidakpastian global. Bank Indonesia, lanjutnya, tetap mendorong penguatan UMKM dan ekspor sebagai strategi mitigasi risiko.

“Beberapa program terkait UMKM dan upaya kita mendorong ekspor tetap kita lakukan. Mungkin perlu lebih ekstra, supaya kalaupun ada risiko dari sektor eksternal tersebut, kita bisa trade off dengan peningkatan ekspor maupun peningkatan permintaan produk lokal kita dari daerah lain,” katanya.

Di tengah bayang-bayang perlambatan global, lanjut Hasiando, Kaltara justru memiliki peluang penguatan dari sektor industri pengolahan, khususnya proyek Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang memasuki tahap komisioning.

“Kalau sebelum 2026 tahapannya konstruksi, sekarang masuk proses komisioning, semacam trial sebelum produksi penuh. Dari pengolahan bauksit dan alumina menjadi aluminium, nilai tambahnya meningkat pesat,” jelas Hasiando.

Menurutnya, peningkatan nilai tambah dari industri pengolahan ini berpotensi mengompensasi dampak negatif dari sektor eksternal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. “Kalau pun ada dampak dari sektor eksternal, itu bisa dikompensasi dengan peningkatan produksi aluminium. Nilai tambahnya cukup besar,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa manfaat industri pengolahan akan optimal jika mampu menyerap tenaga kerja lokal. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi perhatian penting.

“Kita berharap semakin banyak lapangan kerja tercipta. Selain ekspornya meningkat dan pertumbuhan ekonomi naik, masyarakat kita juga lebih banyak terserap di dunia kerja,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pelatihan vokasi dan balai latihan kerja agar masyarakat lokal tidak tertinggal saat industri memasuki tahap produksi penuh. “Jangan sampai kita terlambat. Di tahapan awal belum masuk, nanti ketika industri sudah berjalan, diperlukan skill yang lebih tinggi dan kualifikasinya meningkat. Ini harus jadi konsen kita bersama,” tegasnya.

Di tengah dinamika geopolitik global, Bank Indonesia Kaltara pun mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi fluktuasi nilai tukar dan isu ekonomi global. “Menurut kami, apa yang terjadi saat ini, kita cukup kuat di Kalimantan Utara,” pungkas Hasiando. (rz)

Berikan komentarmu!
Show More
Back to top button