Dua Tahun Berdiri, Tetua Baloi Adat Besar Dayak Agabag Akui Tantangan Luar Sangat Masif
NUNUKAN – Secara usia, Baloi Adat Besar Dayak Agabag Sungai Tulid baru 2 tahun berdiri. Namun, adat dan budaya masyarakat di sepanjang Sungai Tulid dan sekitarnya ini sudah membumi sejak ratusan tahun silam. Hingga akhirnya, tantangan bernama digitalisasi itu datang.
Soal tantangan tersebut, Wakil Ketua Adat Besar Sungai Tulid, Siprianus Sati angkat bicara. Siprianus Sati menyebut, tantangan era digital belakangan ini cukup masif dan sudah meluas hingga ke pedalaman. Menurutnya, perkembangan teknologi yang gila-gilaan ini dapat menggerus sendi-sendi adat jika tidak dibentengi dengan kegiatan produktif.
Salah satu kegiatan yang menurut Siprianus Sati sangat laik untuk menjawab tantangan tersebut adalah rutin menggelar festival budaya. “Festival budaya ini akan menjadi pengingat kolektif bagi generasi muda agar tidak melupakan akar sejarah dan identitas suku mereka sendiri,” imbuhnya.
Saking pentingnya pengingat ini, sebut Siprianus Sati, pihaknya dan masyarakat sekitar sangat antusias menggelar kegiatan yang mengusung tema budaya pada 25 Februari hingga 5 Maret 2026 mendatang. Festival budaya ini digelar untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Baloi Adat Besar Dayak Agabag Sungai Tulid. Tak hanya itu, festival ini juga akan menghadirkan kompetisi olahraga agar masyarakat dapat merasakan bahwa budaya dapat bersanding dengan olahraga, bahkan kegiatan positif lainnya.
Melalui tema; “Adat Istiadat Sebagai Fondasi dan Pilar Bangsa,” Siprianus Sati menyebut, kegiatan ini sudah disiapkan dengan matang. Bahkan, pembuatan logo dan simbol HUT festival ini dirancang dengan baik dan memiliki filosofi mendalam, yakni mencerminkan keseimbangan antara raga yang sehat dan jiwa yang kuat sebagai fondasi bangsa.
“Kami merasa sangat senang dan penuh semangat dapat merayakan hari jadi rumah adat kami sendiri. Ini adalah kebanggaan kolektif. Meski zaman berubah, identitas Dayak Agabag harus tetap kita nikmati dan jaga bersama,” tutup Siprianus Sati.
Siprianus juga berharap melalui kegiatan ini, masyarakat hukum adat semakin mencintai kebudayaan yang diwariskan leluhur dan berperan aktif dalam pelestariannya di masa depan. Olehnya, Kecamatan Tulin Onsoi kini bersiap menjadi pusat perhatian budaya di Kabupaten Nunukan, Kaltara, bahkan dunia. Festival ini diprediksi akan menjadi gelaran spektakuler, menyatukan ribuan pasang mata dalam semangat pelestarian budaya Dayak Agabag. (1ku)


