NUNUKAN – Inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) bulan ini dilaporkan tembus 4,22%. Data ini disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan dalam rilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari 2026 baru-baru ii.
Kepala BPS Nunukan Iskandar Ahmadien menyebutkan, angka ini meningkat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat 3,67 persen, dengan IHK naik dari 110,23 menjadi 110,5. Salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan ini adalah kenaikan tarif listrik.
“Kenaikan tarif listrik menjadi penyumbang terbesar dalam lonjakan inflasi tersebut,” kata Iskandar kepada media ini.
Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan ini juga dipicu oleh kenaikan pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatatkan kenaikan tertinggi, yakni sebesar 20,44%.
“Lonjakan pada sektor ini menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi di Kabupaten Nunukan pada awal tahun 2026,” ungkapnya.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan sebesar 11,77%, disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 3,89%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mengalami kenaikan 1,55%, pendidikan 1%, transportasi 0,83%, serta kesehatan 0,76%.
Di sisi lain, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi sebesar 0,93 persen, sehingga sedikit menahan laju inflasi secara keseluruhan. Secara komoditas, tarif listrik memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan dengan kontribusi 2,19%. Disusul emas perhiasan sebesar 0,61%, serta nasi dengan lauk dan ikan bandeng/ikan bolu yang masing-masing menyumbang 0,21%.
Berbeda dengan tren tahunan, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) justru menunjukkan perlambatan. Pada Januari 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,81%, namun pada Februari 2026 turun signifikan menjadi 0,24%. Komoditas yang menyumbang inflasi bulanan antara lain cabai rawit (0,22%), emas perhiasan (0,14%), dan tomat (0,07%). Sementara, inflasi tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) hingga Februari 2026 tercatat sebesar 1,06%.
“Data ini menegaskan bahwa tekanan harga di Kabupaten Nunukan pada awal tahun 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan biaya energi dan sektor perumahan, meskipun secara bulanan laju inflasi mulai melambat,” pungkasnya. (sym)

