KALTARATARAKANUMUM

DLH Tarakan Antisipasi Lonjakan Sampah Jelang Lebaran, Produksi Harian Capai 110 Ton

TARAKAN — Kebersihan Kota Tarakan menjadi perhatian serius pemerintah menjelang Hari Raya Idulfitri tahun ini. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan pun mengantisipasi lonjakan volume sampah yang biasanya meningkat selama bulan Ramadan hingga Lebaran.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) DLH Kota Tarakan, Yohanes K. Patongloan mengakui, persoalan penumpukan sampah masih terjadi di beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) dan depo sampah.

“Ini memang menjadi salah satu problem di DLH. Harapan kita TPS-TPS 3R itu bisa memilah sampah yang masuk. Namun sampai saat ini belum maksimal,” kata Yohanes.

Ia menjelaskan, masih banyak sampah yang seharusnya bisa diolah di tingkat TPS 3R, seperti dijadikan kompos atau dimanfaatkan kembali, namun justru langsung menumpuk di depo sampah. Bahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan punya program agar sampah plastik bisa dibuat coating block, namun program ini belum berjalan maksimal.

“Tujuannya supaya TPS 3R benar-benar berfungsi memilah, tapi saat ini belum berjalan maksimal,” ujarnya.

Akibatnya, sejumlah depo sampah mengalami kelebihan kapasitas atau overload. Meski begitu, DLH terus berupaya memastikan sampah tetap terangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Kita juga sudah rapat terkait kondisi TPA, karena shelter yang baru dibuka sekitar setengah hektare dan kapasitasnya sudah mulai terisi,” jelasnya.

DLH juga mulai mengkaji kemungkinan penggunaan teknologi pengolahan sampah seperti Refuse Derived Fuel (RDF) agar tidak terus bergantung pada pembangunan shelter baru. Hal ini, kata dia, pernah diungkapkan saat kunjungan lapangan bersama Komisi III belum lama ini.

“Kita membahas apakah sampah ini nantinya bisa diolah dengan sistem RDF atau teknologi lain. Supaya kita tidak terus membangun shelter dan bisa menghemat anggaran pemerintah kota,” tambahnya.

Saat ini, kata Yohanes, terdapat 18 depo sampah yang melayani wilayah Kota Tarakan. Namun, ada beberapa titik yang hampir setiap hari mengalami penumpukan sampah, seperti Sebengkok, Lingkas Ujung, dan Karang Anyar. Menurut Yohanes, salah satu penyebab penumpukan ini adalah tidak adanya jadwal tetap masyarakat dalam membuang sampah.

“Khususnya di Sebengkok, kita sudah pasang banner terkait jadwal pembuangan sampah. Tapi masyarakat beralasan siang hari bekerja, sehingga akhirnya membuang sampah pada malam hari,” ujarnya.

DLH sendiri memiliki sekitar 311 petugas di bidang pengelolaan sampah dan B3. Rinciannya terdiri dari petugas penyapuan jalan, tim emergensi, tim finishing, serta tim ‘hunting’ yang bertugas menyisir titik sampah yang menumpuk.

“Sebagian besar di penyapuan jalan, kemudian ada tim emergensi, finishing, dan hunting yang menyisir lokasi sampah overload,” jelasnya.

Untuk armada pengangkut sampah, DLH saat ini mengoperasikan 34 unit kendaraan. Namun sebagian armada sudah cukup tua sehingga kerap mengalami kerusakan. Jumlah ini dinilai sudah cukup. Hanya saja, armada ini sering mengalami kerusakan.

“Tapi sering rusak karena (usia produktifnya) sudah sekitar 10 tahun. Dalam satu minggu bisa dua kali masuk bengkel. Kadang lima unit sekaligus harus diperbaiki,” katanya.

Meski menghadapi berbagai kendala, DLH memastikan pelayanan kebersihan tetap berjalan, terutama menghadapi potensi lonjakan sampah saat Ramadan dan Idulfitri.

“Sudah pasti ada peningkatan. Bulan puasa saja volumenya mulai naik, apalagi nanti saat Idulfitri. Karena itu teman-teman di lapangan tetap kita turunkan untuk membekap sampah di depo dan TPS 3R,” ujar Yohanes.

Saat ini produksi sampah di Kota Tarakan mencapai sekitar 110 ton per hari. Data peningkatan volume sampah selama Ramadan masih dalam proses pendataan. “Data peningkatan selama Ramadan masih kita kumpulkan. Mungkin dalam satu minggu ke depan kita bisa rilis volume sampah per kecamatan,” pungkasnya. (rz)

Show More
Back to top button