EKONOMIBISNISINTERNASIONALKALTARANASIONALNUNUKANSATU BORNEOTARAKAN

Harga Minyak Dunia Naik, Tarif Kapal Internasional Tawau–Nunukan dan Tawau–Tarakan Ikut Melonjak

NUNUKAN – Kenaikan harga minyak dunia mulai berdampak pada ekonomi di sejumlah negara, termasuk di Indonesia dan Malaysia. Peristiwa ekonomi itu juga berdampak pada biaya transportasi laut di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia.

Seperti yang diumumkan Fokasjadi Sdn Bhd baru-baru ini. Perusahaan transportasi laut di Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia tersebut secara resmi menyampaikan pemberitahuan kenaikan tarif tiket kapal feri internasional rute Tawau–Nunukan dan Tawau–Tarakan kepada para pengusaha kapal.

Kenaikan tarif tersebut disampaikan melalui surat resmi kepada operator kapal feri yang melayani rute internasional dari Terminal Feri Penumpang (TFT) Tawau, Sabah. Meski kenaikannya tak terlalu signifikan, namun kabar ini tentu saja menjadi perhatian serius para pengguna transportasi laut rute Tarakan – Tawau ataupun sebaliknya.

Fokasjadi Sdn Bhd sendiri merupakan perusahaan transportasi laut berbasis di Tawau. Perusahaan ini bertindak sebagai agen konsesi tunggal yang berwenang mengelola penjualan tiket di terminal tersebut, khususnya untuk rute internasional seperti Tawau–Nunukan.

Salah seorang pengusaha kapal penyeberangan Nunukan–Tawau, Andi Darwin membenarkan adanya kenaikan tarif tiket dari Malaysia menuju Indonesia. Menurutnya, tarif rute Tawau–Nunukan saat ini mencapai RM150 untuk penumpang dewasa atau sekitar Rp645.000, serta RM90 untuk anak-anak atau sekitar Rp387.000.

Sementara itu, untuk rute Tawau–Tarakan, harga tiket kini mencapai RM250 untuk dewasa atau sekitar Rp1.075.000, serta RM160 untuk anak-anak atau sekitar Rp 688.000.

“Tapi untuk rute Nunukan ke Tawau belum ada kenaikan,” kata Darwin kepada media.

Ia menjelaskan, para pengusaha kapal di Nunukan saat ini masih mempertimbangkan penyesuaian tarif untuk rute Nunukan–Tawau. Pasalnya, harga tiket yang masih berkisar Rp350.000 per penumpang dinilai sudah tidak lagi menutup biaya operasional.

“Ada rencana pertemuan untuk membahas kenaikannya. Sebab dengan harga Rp 350 ribu per orang ini dipastikan rugi,” ungkapnya.

Darwin menambahkan, selama ini sebagian besar kapal yang melayani rute internasional memilih mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Malaysia, bukan di Nunukan. Hal itu disebabkan berbagai kendala regulasi di Nunukan, mulai dari tidak adanya Terminal Khusus (Tersus) bongkar muat BBM, ketiadaan bunker penyimpanan BBM, hingga sejumlah persyaratan administratif yang dinilai cukup rumit bagi operator kapal.

“Kami kesulitan membeli BBM di Nunukan karena banyak persyaratan. Sementara di Malaysia lebih mudah tanpa banyak aturan,” jelasnya.

Biasanya, setiap kapal membeli sekitar tujuh ton dexlite untuk kebutuhan sekitar tujuh kali perjalanan pulang pergi. Namun belakangan, harga BBM di Malaysia juga ikut melonjak. Jika sebelumnya sekitar Rp20.000 per liter, kini naik menjadi sekitar RM6 per liter atau setara Rp25.800. Kondisi tersebut tentu saja berdampak langsung pada biaya operasional kapal.

Sementara itu, pemilik armada pelayaran Nunukan–Tawau, H. Nur Rahmat menegaskan bahwa kenaikan tarif tiket yang terjadi saat ini bersifat sementara. Menurutnya, harga tiket berpeluang kembali turun apabila harga minyak dunia mulai stabil dan biaya operasional pelayaran kembali normal.

“Kalau untuk tarif Nunukan–Tawau saat ini masih akan kami rapatkan untuk penyesuaian tarif. Karena di Malaysia harga minyak sudah tembus RM6 per liter atau sekitar Rp25.842,” pungkasnya. (sym)

Show More
Back to top button