TANJUNG SELOR – Suasana Rumah Jabatan (Rumjab) Bupati Bulungan saat Salat Magrib, sekira pukul 18.35 Wita tadi, Jumat (13/3/2026) mendadak tegang. Seorang tokoh agama, H. Dt. Muhammad Idris bin Dt. Muhammad Taher yang didaulat mengimami peserta Buka Puasa Bersama di kediaman Bupati Bulungan Syarwani tiba-tiba ambruk di tempatnya berdiri.
Dari pantauan media ini, tokoh yang akrab disapa Datu Idris itu awalnya terlihat bugar saat duduk berdampingan dengan Bupati dana pejabat lainnya. Bahkan tampak luwes dalam obrolan ringan dengan Bupati, para tamu maupun pejabat yang hadir. Namun, suasana khidmat itu berubah menjadi pilu setelah Datu Idris didapuk menjadi Imam Salat Magrib.
Rakaat pertama berjalan lancar. Tak ada tanda-tanda dia akan ambruk. Rakaat kedua, sama. Tak ada kendala berarti. Bacaan surah-surah lancar. Hingga pada rakaat terakhir, jelang salam penutup, Datu Idris tiba-tiba ambruk.
Makmum kaget. Salat terhenti. Barisan makmum paling depan langsung memberikan pertolongan. Barisan kedua langsung mendekat. Tampak juga Direktur RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor, dr. Widodo Darmo Sentoso langsung memberikan pertolongan pertama dengan melakukan CPR (resusitasi jantung paru).
Upaya penyelamatan terus dilakukan sebelum almarhum segera dibawa menuju rumah sakit. Namun dalam perjalanan, takdir berkata lain. Nyawa pria bersahaja itu tak dapat diselamatkan. Kepergian Datu Idris meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang berada di lokasi malam itu.
“Beliau sosok yang sangat santun. Meninggal di sela ibadah, di tengah kerabat, dan di bulan suci Ramadan. Ini akhir yang sangat indah,” ungkap salah seorang rekan almarhum dengan suara bergetar.
Semasa hidupnya, Datu Idris dikenal sebagai pribadi yang sederhana namun penuh dedikasi. Ia merupakan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan.
Di kalangan rekan kerja, almarhum dikenal sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas di bidang pertanian. Banyak yang menyebutnya sebagai ‘kamus berjalan’ karena pengalamannya yang panjang dalam dunia pertanian daerah.
Meski telah purna tugas, semangat pengabdiannya tak pernah pudar. Datu Idris tetap aktif di tengah masyarakat.
Ia dipercaya sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) di lingkungannya, sekaligus menjadi imam di Langgar Al-Ishlaah yang berada tak jauh dari kediamannya. Kehadirannya sering menjadi penyejuk di tengah warga.
Bagi masyarakat sekitar, ia bukan sekadar tokoh lingkungan, tetapi juga figur ayah yang hangat dan mudah diajak berdiskusi. Sehingga tak heran, kabar wafatnya Datu Idris dengan cepat menyebar dan menimbulkan duka mendalam di berbagai kalangan.
Ucapan belasungkawa pun berdatangan dari pejabat daerah, kolega lama, hingga masyarakat yang mengenalnya sebagai pribadi yang ramah dan rendah hati. Malam itu, Bulungan tak hanya kehilangan seorang pensiunan ASN.
Daerah ini juga kehilangan sosok yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk pelayanan—baik kepada negara, masyarakat, maupun kepada Tuhan. Datu Idris seakan menunjukkan satu pesan sederhana melalui akhir hidupnya: bahwa pengabdian sejati tidak pernah berhenti, hingga napas terakhir terhenti.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Selamat jalan, Datu Idris, salam hormat dari media satukaltara.com“. (rm)