UMUM

Buaya ‘Muara’ Banyak Muncul di Permukiman Warga, Musim Kawin Tiba?

TARAKAN — Kemunculan buaya muara di sejumlah wilayah di pesisir Kota Tarakan dalam beberapa waktu terakhir memicu keresahan warga. Reptil berbahaya itu dilaporkan terlihat di kawasan padat penduduk, seperti Jalan Gajah Mada, Pantai Amal, Mamburungan hingga Karang Harapan, bahkan sempat berjemur di bawah jembatan kayu yang kerap dilintasi masyarakat.

Situasi ini semakin mengkhawatirkan setelah beredar laporan warga, termasuk anak-anak yang nekat mencoba menangkap buaya berukuran kecil di sekitar lingkungan mereka. Aksi tersebut dinilai sangat berisiko dan berpotensi mengancam keselamatan.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP dan PMK Tarakan, Eko Supriyatnoko, menegaskan bahwa kemunculan buaya di dekat permukiman bukanlah fenomena yang terjadi tanpa sebab. Menurutnya, ada kombinasi faktor lingkungan dan perilaku alami satwa tersebut.

“Fenomena ini umumnya dipengaruhi kombinasi faktor lingkungan dan perilaku alami buaya itu sendiri. Mereka bisa mencari arus yang lebih tenang, memperluas wilayah jelajah, hingga berpindah akibat terganggunya habitat di hulu,” ujar Eko.

Ia menjelaskan, buaya cenderung memilih perairan yang lebih tenang seperti drainase atau tepian sungai untuk menghemat energi. Selain itu, meluapnya air sungai juga berperan menghilangkan batas alami habitat.

“Perubahan lingkungan seperti pembukaan lahan di kawasan hulu atau rawa juga berkontribusi. Buaya kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, sehingga bergerak ke wilayah yang lebih dekat dengan permukiman,” tambahnya.

Dalam satu hari, Rabu (25/3/2026), pihaknya bahkan menerima beberapa laporan kemunculan buaya. Laporan pertama datang dari RT 11 Mamburungan sekitar pukul 11.07 Wita, disusul laporan kedua dari Pantai Amal Baru RT 6 melalui layanan darurat 112 pada pukul 16.43 Wita.

“Pada kesempatan pertama, kami akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan pihak Balai Pengelola Kelautan Wilayah Kalimantan Utara terkait penanganan ini,” jelas Eko.

Ia juga menduga, kemunculan buaya tersebut berkaitan dengan musim kawin di wilayah muara. Buaya yang kalah bersaing dengan individu dominan cenderung berpindah ke area pinggiran.

“Kemungkinan yang muncul ini adalah buaya-buaya yang kalah bersaing dengan yang lebih dominan, sehingga bergeser ke area pinggiran yang dekat dengan aktivitas warga,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Irwan menambahkan, faktor biologis turut memengaruhi perilaku buaya, termasuk meningkatnya agresivitas saat musim kawin.

“Pada musim tertentu, buaya jantan menjadi lebih agresif dalam mempertahankan wilayah. Buaya yang kalah biasanya akan berpindah ke area lain, termasuk yang dekat dengan manusia. Sementara betina bisa naik ke daratan untuk mencari lokasi aman bertelur,” jelas Irwan.

Ia juga menyebut, berkurangnya vegetasi di bantaran sungai membuat keberadaan buaya lebih mudah terlihat warga, sehingga terkesan jumlahnya meningkat. Terkait penanganan, Damkar Tarakan memiliki prosedur khusus mulai dari menerima laporan, identifikasi lokasi, evakuasi hingga pelepasan kembali ke habitatnya.

“Jika buaya masih berada di habitatnya seperti perairan payau atau muara, biasanya menjadi kewenangan instansi terkait. Namun, apabila sudah naik ke daratan dan masuk ke permukiman, kami akan segera tindak lanjuti dengan mengutamakan keselamatan,” tegasnya.

Pihaknya pun mengimbau masyarakat untuk tidak bertindak nekat, termasuk mencoba menangkap buaya secara mandiri. Warga diminta segera melapor ke instansi terkait seperti BPSPL Tarakan atau BKSDA.

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menghindari aktivitas di pinggir sungai, terutama saat fajar, senja, dan malam hari ketika buaya aktif berburu. “Kami harap masyarakat lebih waspada dan tidak bertindak sendiri. Keselamatan adalah yang utama,” pungkas Irwan. (rz)

Show More
Back to top button