
TARAKAN — Fenomena El Nino ‘Godzilla’ diprediksi tidak akan berdampak signifikan secara langsung terhadap wilayah Kaltara. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap dampak turunannya, terutama terkait potensi kebakaran lahan dan gangguan pasokan pangan.
Forecaster BMKG Tarakan, Ida Bagus Gede Yamuna mengatakan, Kaltara memiliki karakteristik iklim ekuatorial yang relatif stabil sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat Kaltara tidak mengalami perbedaan musim yang ekstrem seperti wilayah lain di Indonesia.
“Untuk wilayah Kaltara, kita memiliki tipe iklim ekuatorial dimana hujan itu terjadi sepanjang tahun dari Januari sampai Desember,” ujarnya. Hujan itu pasti terjadi sepanjang tahun, hanya intensitasnya yang berbeda-beda,” lanjutnya.
Meski begitu, dampak tidak langsung tetap berpotensi terjadi, terutama jika arah angin membawa massa udara kering dari wilayah yang terdampak El Nino.
“Kalau arah angin yang bertiup membawa udara kering dari wilayah terdampak El Nino, maka wilayah Kaltara bisa mengalami penurunan potensi pembentukan hujan,” jelasnya.
Selain itu, sektor pangan juga dinilai rentan terdampak, mengingat Kaltara masih bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga komoditas, terutama sayur dan hasil perkebunan.
“Kemungkinan besar akan terjadi berkurangnya pasokan atau meningkatnya harga jual komoditas yang masuk ke Kaltara,” tambahnya.
BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan tetap harus diwaspadai jika periode tanpa hujan berlangsung lebih lama.
“Jika hotspot terus terkena suhu tinggi, maka besar kemungkinan akan berkembang menjadi titik api,” tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG Tarakan terus berkoordinasi dengan instansi terkait seperti BPBD untuk memastikan informasi cuaca dapat disampaikan secara cepat.
“Kalau potensi hujan masih belum terlihat, kami akan menginfokan ke BPBD untuk waspada terhadap kemungkinan karhutla,” pungkasnya. (rz)


