UMUM

Siaga SAR Lebaran di Tarakan Relatif Aman, SAR Soroti Kelalaian Abaikan Peringatan Cuaca

TARAKAN – Pelaksanaan Siaga SAR Khusus Lebaran 2026 di wilayah Tarakan dan sekitarnya berjalan relatif aman. Namun, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tarakan mencatat sejumlah catatan penting, terutama terkait masih adanya kecelakaan laut yang diduga dipicu kelalaian manusia dalam mengabaikan peringatan cuaca.

Kepala Kantor SAR Tarakan, Syahril menegaskan, kepatuhan terhadap imbauan keselamatan menjadi faktor utama untuk mencegah insiden di laut, khususnya ketika kondisi cuaca sedang tidak bersahabat.

“Kami menyarankan kepada penyedia jasa transportasi laut agar lebih mengutamakan keselamatan. Kalau memang ada peringatan cuaca dari BMKG, sebaiknya ditunda dulu untuk berlayar,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Menurut Syahril, sejumlah insiden yang terjadi selama periode siaga Lebaran diduga karena korban tetap memaksakan diri melaut meskipun telah ada peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hal tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga menyulitkan proses pencarian dan pertolongan.

“Kalau peringatan cuaca tidak diindahkan, pasti akan terjadi sesuatu. Dan itu juga menyulitkan kami dalam proses pencarian, karena kondisi di lapangan tidak mendukung,” tegasnya.

Selain faktor kelalaian manusia, kondisi alam di perairan Kalimantan Utara juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR. Salah satunya terdapat di perairan Pulau Bunyu dan Kabupaten Tana Tidung (KTT), yang dikenal memiliki pertemuan arus air tawar dan air asin yang berpotensi menimbulkan pusaran berbahaya.

“Faktor alam juga tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Di Bunyu itu ada pertemuan arus yang cukup berbahaya, sehingga menjadi kendala dalam proses pencarian,” jelasnya.

Selama masa Siaga SAR Khusus Lebaran, Kantor SAR Tarakan mencatat dua operasi pencarian di wilayah perairan. Seluruh korban dari dua kejadian tersebut berhasil ditemukan, meskipun salah satunya baru ditemukan setelah masa operasi resmi berakhir.

“Secara keseluruhan hanya dua operasi yang kita tangani, dan alhamdulillah semua korban berhasil ditemukan,” katanya.

Ia menjelaskan, sesuai prosedur, operasi SAR dilakukan maksimal selama tujuh hari. Namun dalam salah satu kasus, korban baru ditemukan setelah masa operasi ditutup.

“Walaupun ditemukan setelah tujuh hari, tetap kita tangani dan korban bisa diserahkan ke pihak keluarga,” tambahnya.

Dalam proses identifikasi korban, tim SAR juga berkoordinasi dengan Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalimantan Utara untuk melakukan autopsi. Operasi SAR ini turut melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah hingga masyarakat.

Sejumlah peralatan juga dikerahkan dalam proses pencarian, di antaranya kapal RBB (Rigid Buoyancy Boat), RIB (Rigid Inflatable Boat), serta alat deteksi bawah air Aquaeye.

Sementara itu, pemantauan di wilayah darat selama arus mudik dan balik Lebaran dilaporkan berjalan aman dan terkendali. Pengawasan dilakukan di sejumlah titik strategis seperti Pantai Amal, Pelabuhan Malundung, Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Pelabuhan Feri Juwata, hingga Bandara Internasional Juwata Tarakan.

“Untuk di darat, tidak ada kejadian menonjol. Semua berjalan lancar sampai akhir masa siaga,” pungkasnya. (rz)

Show More
Back to top button