TARAKAN – Tim Karantina Hewan memastikan ratusan sapi yang didatangkan ke Kota Tarakan dari Gorontalo dalam kondisi sehat setelah melalui serangkaian pemeriksaan ketat.
Langkah ini dilakukan guna menjamin keamanan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha.
Ketua Tim Karantina Hewan, drh Novelia, mengungkapkan dari total 442 ekor sapi yang tiba menggunakan kapal Cemara pada pekan lalu, sebanyak 51 sampel telah diambil untuk diuji di laboratorium pada Sabtu (19/4/2026).
“Dari total 442 ekor sapi yang masuk dari Gorontalo, kami mengambil 51 sampel untuk diuji di laboratorium sebagai bagian dari monitoring kesehatan ternak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum diberangkatkan ke Tarakan, seluruh sapi telah melalui pemeriksaan ketat di daerah asal, termasuk vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Meski demikian, pemeriksaan ulang tetap dilakukan setibanya di Tarakan untuk memastikan kondisi ternak benar-benar aman.
“Sapi yang masuk sudah dilakukan pengujian laboratorium serta pemeriksaan fisik dan klinis di daerah asal, termasuk vaksinasi PMK. Di Tarakan, kami kembali melakukan pemeriksaan fisik, klinis, serta pengujian laboratorium,” jelasnya.
Menurutnya, pengawasan berlapis ini diharapkan mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat yang akan membeli hewan kurban.
“Dengan pengawasan berlapis ini, masyarakat tidak perlu khawatir untuk membeli hewan kurban, karena kami pastikan sapi yang masuk dalam kondisi sehat,” tegasnya.
Novelia juga menyoroti adanya peningkatan signifikan lalu lintas ternak menjelang Idul Adha. Jika biasanya pemasukan sapi dari Gorontalo hanya sekitar 200 ekor dalam sebulan, kini jumlahnya meningkat hingga dua kali lipat dengan frekuensi pengiriman yang lebih sering.
“Menjelang Idul Adha, volume sapi yang masuk bisa mencapai dua kali lipat, dan frekuensi kapal meningkat menjadi sekitar dua minggu sekali. Belum lagi tambahan pasokan dari daerah lain seperti Tolitoli,” katanya.
Ia menambahkan, setelah sapi dinyatakan lolos karantina dan diterbitkan sertifikat pelepasan, pengawasan selanjutnya menjadi kewenangan Dinas Peternakan setempat.
Pihak karantina juga mengimbau para pedagang untuk melengkapi setiap pemasukan ternak dengan sertifikat karantina guna menjamin kesehatan hewan sekaligus meningkatkan kepercayaan pembeli.
“Kami mengimbau pedagang untuk selalu melengkapi sertifikat karantina agar ternak yang masuk terjamin kesehatannya,” ujarnya.
Sementara itu, masyarakat diminta lebih teliti saat membeli hewan kurban, dengan memperhatikan usia, kondisi kesehatan, kelincahan, serta memastikan tidak ada cacat fisik maupun tanda-tanda penyakit.
“Khusus sapi asal Gorontalo biasanya dilengkapi eartag dari karantina dengan logo resmi, sehingga bisa menjadi indikator bahwa ternak telah melalui prosedur pengawasan,” pungkasnya. (rz)


