NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan memastikan relokasi kegiatan Pasar Tani yang selama ini digelar di Alun-alun Nunukan. Mulai Minggu, 10 Mei 2026, aktivitas pedagang akan dipindahkan ke Jalan Bahari atau kawasan yang dikenal sebagai Jalan Tanah Merah, tepat di dekat UMKM Centre.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Nunukan, Muhtar menegaskan, keputusan tersebut telah melalui kesepakatan lintas instansi bersama Aparat Penegak Hukum (APH).
“Kita sudah sepakat soal penggunaan badan jalan setelah beberapa kali rapat antar-OPD bersama APH. Ini untuk kepentingan yang lebih luas, sambil kita lakukan evaluasi ke depan,” ujar Muhtar usai rapat di UMKM Centre, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, lokasi relokasi memanfaatkan jalan aspal yang bukan merupakan jalur protokol, sehingga arus lalu lintas relatif tidak padat. Pengaturan lapak akan menggunakan satu sisi jalan dengan sistem berhadapan, sementara bagian tengah disiapkan sebagai jalur pejalan kaki. Satu lajur lainnya tetap difungsikan untuk kendaraan.
Setiap pedagang akan mendapatkan ruang lapak seluas 2 meter tanpa dikenakan retribusi pada tahap awal. Fasilitas pendukung seperti listrik juga telah disiapkan oleh pemerintah.
“Tidak ada pedagang sayur dan ikan yang menolak, bahkan sebagian sudah mulai mengambil tempat. Penolakan justru datang dari oknum pengurus yang selama ini mengelola di alun-alun,” ungkapnya.
Dalam skema baru, aktivitas Pasar Tani akan berlangsung mulai pukul 05.00 hingga 10.00 Wita, seiring dengan penyesuaian kegiatan car free day di lokasi tersebut. Tahap awal relokasi difokuskan pada petani yang menjual hasil kebun, sembari dilakukan evaluasi bertahap.
Sementara itu, relokasi bagi pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM lainnya akan menyusul setelah proyek rekonstruksi Alun-alun Nunukan dimulai.
Menurut Muhtar, relokasi ini merupakan bagian dari penataan kota. Selama ini, keberadaan pedagang di alun-alun dinilai tidak sesuai dengan fungsi kawasan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Selain itu, meningkatnya jumlah pedagang berdampak pada kebersihan, gangguan jalur evakuasi ambulans, penggunaan listrik yang tidak jelas, hingga dugaan pungutan liar.
“Sudah saatnya kita tata kota ini. Kami juga siapkan alternatif lokasi di kawasan Pasar Malam dan Puja Sera sebagai pusat kuliner ke depan,” tegasnya.
Pemkab Nunukan juga menyiapkan berbagai strategi agar lokasi baru tetap ramai, di antaranya dengan menggelar kegiatan lomba, pertandingan, hingga menghadirkan wahana permainan. Selain itu, pemerintah tengah menggodok regulasi untuk mendorong legalitas UMKM agar dapat mengakses bantuan modal dan pinjaman tanpa bunga.
“Kita ingin para pelaku usaha ini naik kelas, lebih tertata, dan punya akses dukungan yang jelas,” tutup Muhtar. (sym)

