TARAKAN – Penyakit leptospirosis masih menjadi ancaman kesehatan di Kota Tarakan. Dinas Kesehatan setempat mencatat adanya kasus yang muncul sepanjang Januari hingga Mei 2026, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di lingkungan lembap dan rawan tikus.
Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Irsal mengungkapkan, tahun ini terdapat dua kasus leptospirosis yang sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. “Tahun ini ada dua ya. Minggu lalu salah satunya sempat dirawat di rumah sakit, tapi alhamdulillah sudah membaik dan sudah keluar dari rumah sakit,” ujarnya.
Menurutnya, leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang berasal dari urin tikus. Penularannya terjadi saat bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka yang terpapar air atau tanah yang terkontaminasi.
“Kalau leptospirosis ini awal masuknya ke dalam tubuh melalui luka ya, biasanya luka di kaki atau bagian tubuh lain yang terbuka dan terkena kontaminasi dari urin tikus yang ada di lingkungan,” jelasnya.
Irsal menambahkan, gejala awal penyakit ini kerap tidak spesifik, seperti demam, tubuh lemas, hingga batuk dan pilek. Namun, ada tanda khas yang perlu diwaspadai, yakni perubahan warna kulit dan mata menjadi kuning akibat gangguan fungsi ginjal.
“Kalau leptospirosis itu biasanya diawali demam, badan lemas, kadang juga disertai batuk pilek, tapi yang khas itu sampai matanya kuning, kulitnya juga kuning. Itu yang membedakan dengan penyakit lain,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak ditangani sejak dini, karena dapat menyerang ginjal hingga menyebabkan gagal ginjal. “Kalau tidak ditangani cepat, bisa menyebabkan gagal ginjal karena memang menyerang organ ginjal, jadi harus segera ditangani sejak awal,” tegasnya.
Risiko penularan meningkat pada lingkungan yang kotor, lembap, dan banyak tikus, terutama saat musim hujan atau banjir. Kondisi tersebut mempermudah penyebaran bakteri melalui genangan air yang terkontaminasi.
Dinas Kesehatan Kota Tarakan sendiri terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), serta mengintensifkan edukasi kepada masyarakat di wilayah berisiko.
“Setiap kasus yang mengarah ke leptospirosis kita laporkan ke SKDR, yaitu sistem kewaspadaan dini dan respons, supaya bisa dipantau dan ditindaklanjuti lebih lanjut,” jelasnya.
Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam setelah terpapar lingkungan berisiko.
“Kalau ada demam setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus atau air kotor, sebaiknya segera ke puskesmas untuk diperiksa supaya bisa cepat ditangani,” pungkasnya. (rz)