TANJUNG SELOR – Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan (HMJEP) STIE Bulungan-Tarakan berlangsung ramai dan dipenuhi diskusi kritis di Rumah Kebangsaan, Jalan Nuri, Tanjung Selor, Jumat malam (15/5/2026).
Sekitar seratus peserta dari kalangan mahasiswa hingga masyarakat umum memadati lokasi nobar sejak awal acara hingga berakhir sekitar pukul 22.30 Wita. Semula kegiatan direncanakan berlangsung di ruang terbuka, namun panitia memindahkan lokasi ke dalam gedung akibat cuaca yang kurang bersahabat sejak sore hari.
Selain faktor cuaca, pemindahan lokasi juga dilakukan sebagai langkah antisipasi demi menjaga kondusivitas kegiatan. Pasalnya, film dokumenter tersebut sebelumnya sempat menuai penolakan di sejumlah daerah.
Ketua HMJEP STIE Bulungan-Tarakan, Walid Anshari mengatakan, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya membuka ruang dialog dan refleksi kritis mahasiswa terhadap isu pembangunan yang tengah berlangsung, khususnya di Kalimantan Utara (Kaltara).
Menurutnya, substansi film memiliki keterkaitan erat dengan kondisi sosial masyarakat di daerah yang saat ini dihadapkan pada berbagai proyek pembangunan berskala besar.
“Film ini bukan untuk menggiring opini, tetapi menjadi ruang belajar bersama agar masyarakat bisa melihat langsung isi dan pesan yang disampaikan secara objektif,” ujarnya.
Sepanjang pemutaran berlangsung, peserta terlihat antusias mengikuti setiap adegan dokumenter yang menyoroti dinamika kehidupan masyarakat Papua di tengah proyek strategis nasional.
Suasana semakin hidup ketika sesi diskusi dimulai. Berbagai pandangan kritis bermunculan dari peserta terkait pembangunan, lingkungan, hingga keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Pemantik diskusi, Yosran Efendi, menilai tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap isu lingkungan, ketahanan pangan, serta masa depan masyarakat adat di tengah arus pembangunan nasional.
Ia menegaskan, pembangunan seharusnya tidak hanya berorientasi pada proyek fisik semata, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dasar masyarakat lokal secara menyeluruh.
“Pemerintah perlu memastikan masyarakat dilibatkan sejak awal sebelum sebuah proyek dijalankan. Pendidikan, kesehatan, dan keberlangsungan ruang hidup masyarakat adat juga harus menjadi prioritas,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta turut menyinggung proyek PLTA Kayan yang dinilai memiliki irisan persoalan dengan pesan utama film dokumenter tersebut, terutama terkait dampak pembangunan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Mahasiswa yang hadir juga menilai film Pesta Babi memberikan gambaran nyata mengenai konsekuensi kebijakan pembangunan terhadap kelompok masyarakat di wilayah terpencil.
Di akhir kegiatan, Yosran mengajak mahasiswa untuk memperkuat literasi lingkungan dan lebih kritis memahami berbagai kepentingan di balik proyek-proyek strategis nasional.
Kegiatan nobar dan diskusi berlangsung aman hingga selesai dan diharapkan mampu meningkatkan kepedulian publik terhadap isu lingkungan serta hak masyarakat adat di daerah. (rm)