KALTARANUNUKANPENDIDIKAN

Go Internasional, Yayasan FHC Siapkan Terobosan untuk Kaltara Rumah Disabilitas

NUNUKAN – Tidak hanya menandatangani nota kesepahaman dengan PT Wira Nuswantara Actadiurna (WNA) yang membawahi media satukaltara.com dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nunukan Intlektual Law (NIL) yang akan focus pada persoalan hukum Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan disabilitas, Yayasan Faqih Hasan Center (FHC) Kaltara juga sedang menyusun program kerja sama pendampingan ABK dan disabilitas dengan negara lain. Langkah ini akan diwujudkan melalui rencana kolaborasi dengan Konsulat RI di Tawau, Malaysia, yang ditargetkan terealisasi bertepatan dengan momentum Hari Disabilitas Internasional pada Desember 2026 mendatang.

Ketua Yayasan FHC Kaltara, Hasanuddin, S.H., M.Si., mengungkapkan, langkah program pendampingan disabilitas ‘go internasional’ ini bermula saat dirinya bertemu dengan Direktur PT WNA, Alamsyah. Dari pertemuan tersebut, PT WNA yang diketahui akan menggalang kerja sama dengan sejumlah perusahaan media di Sabah, Malaysia mengajak Yayasan FHC Kaltara untuk ikut dalam kegiatan tersebut.

“Dari sanalah terbesit untuk melakukan kerja sama yang penting ini. Setelah diskusi dengan Pak Dino (Acting Konsulat RI Tawau, Dino Nurwahyudin), kami disambut dengan baik sehingga lahirlah rencana besar ini,” ungkap Hasan saat bertandang ke Rumah Satu Kaltara di Jalan Angkasa, Nunukan Timur, Minggu (5/7/2026).

Langkah ini, beber Hasan, merupakan gerakan sosial mandiri di luar program formal pemerintah. Jauh sebelum rencana ‘go international’, gerakan ini sudah sukses merangkul sekitar 700 pengusaha lokal, mulai dari sektor UMKM, perhotelan, perhubungan, apotek, hingga dokter yang berjiwa sosial untuk mendukung seluruh program Yayasan FHC Kaltara.

Melalui jaringan ini, para penyandang disabilitas akan mendapatkan kartu khusus yang memberikan hak konsesi berupa potongan harga atau fasilitas khusus saat bertransaksi di 700 unit usaha tersebut. Skema ini juga yang nantinya akan dikolaborasikan dengan negara tetangga melalui Konsulat RI di Tawau.

“Target kita adalah menghubungkan jejaring ini ke Malaysia. Jadi, jika disabilitas dari sana berkunjung ke sini, mereka bisa menikmati konsesi dari 700-an pengusaha kita. Sebaliknya, jika disabilitas kita ke sana, mereka juga mendapatkan manfaat program yang sama,” kata Hasan.

Meski bergerak atas inisiatif swadaya dan dunia usaha, Hasanuddin menegaskan, gerakan ini tetap mendorong kolaborasi yang kuat dengan pemerintah daerah demi mewujudkan Kaltara yang ramah disabilitas. “Kalau ini terwujud, saya dan kita semua pasti yakin dan percaya bahwa kawan-kawan kita, saudara kita, anak kita yang disabilitas akan merasa memiliki rumah hangat dan baik untuk mereka. Sehingga tidak ada lagi diskriminasi dan ruang tertutup bagi kreativitas dan kehidupan mereka, Insyaallah,” imbuhnya. (2ku)

Back to top button