TARAKAN – Pertemuan Sosial Ekonomi Malaysia–Indonesia (Sosek Malindo) akan kembali digelar di Kalimantan Utara pada 28 Juli 2026, dengan mengangkat berbagai isu strategis di wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, khususnya Kaltara dan Negeri Sabah.
Plt. Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kaltara, Drs. H. Sanusi, M.Si., mengatakan, forum ini menjadi ruang penting bagi kedua negara untuk membahas persoalan sosial, ekonomi, hingga dinamika kehidupan masyarakat lintas batas.
“Intinya Sosek Malindo ini membahas persoalan sosial dan ekonomi di kawasan perbatasan. Jadi yang dibicarakan adalah hal-hal yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, aktivitas ekonomi, hingga isu-isu lain yang mungkin berkaitan, termasuk aspek keamanan bersama,” ujar Sanusi.
Menurutnya, pembahasan dalam forum tersebut juga difokuskan pada hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan formal kedua negara, sehingga membutuhkan kesepakatan bersama.
“Yang kita bahas itu isu-isu atau persoalan yang berada di luar ketentuan yang sudah ada. Jadi hal-hal yang belum diatur itulah yang kita diskusikan untuk mencari solusi bersama,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, pertemuan Sosek Malindo akan dibagi dalam tiga kelompok kerja (KK), yakni KK Sosial Budaya, KK Ekonomi dan Perdagangan, serta KK Perbatasan. Masing-masing kelompok akan mengupas isu sesuai bidangnya secara lebih teknis dan mendalam.
Selain membahas isu baru, forum ini juga akan mengevaluasi hasil kesepakatan pada pertemuan sebelumnya.
“Nanti juga kita akan melihat kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya, apakah sudah berjalan atau belum. Kalau belum, apa kendalanya, dan apakah perlu dilanjutkan atau tidak. Setelah itu baru kita bahas isu-isu baru,” katanya.
Sanusi menambahkan, isu yang akan dibahas secara detail akan ditentukan bersama antara delegasi Indonesia dan Malaysia saat pertemuan berlangsung.
Pertemuan Sosek Malindo tahun ini dipusatkan di Hotel Tarakan Plaza. Delegasi dari Sabah, Malaysia, mulai tiba pada 28 Juli melalui jalur laut dan udara.
“Sebagian delegasi datang melalui feri, dan ada juga yang menggunakan penerbangan komersial, biasanya transit dulu sebelum ke Tarakan,” ungkapnya.
Adapun jumlah peserta yang terlibat cukup signifikan. Delegasi dari Sabah diperkirakan berjumlah sekitar 60 orang, sementara dari Indonesia mencapai sekitar 80 orang yang terdiri dari unsur Pemerintah Provinsi Kaltara, Pemerintah Kabupaten Nunukan, serta instansi vertikal.
Melalui forum ini, diharapkan berbagai persoalan lintas batas yang selama ini menjadi tantangan dapat dibahas secara komprehensif dan menghasilkan solusi konkret demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan kedua negara. (rz)