TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bulungan memastikan hingga awal Agustus 2026 belum menemukan kasus leptospirosis atau penyakit yang dikenal sebagai “kencing tikus”. Meski demikian, kewaspadaan terus ditingkatkan menyusul ditemukannya kasus penyakit tersebut di Kota Tarakan, guna mencegah potensi penyebaran di wilayah Bulungan.
Kepala Dinkes Bulungan, H. Imam Sujono, mengatakan hingga saat ini seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Bulungan belum melaporkan adanya kasus leptospirosis. Kendati demikian, pihaknya terus melakukan pemantauan dan pengawasan secara intensif sebagai langkah antisipasi.
“Hingga saat ini belum ada laporan maupun temuan kasus leptospirosis di Kabupaten Bulungan. Namun, kami tetap meningkatkan kewaspadaan karena penyakit ini sudah ditemukan di daerah tetangga,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Imam menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang umumnya ditularkan melalui urine tikus. Penularan dapat terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui luka terbuka, lecet pada kulit, maupun melalui mata, hidung, dan mulut saat seseorang bersentuhan dengan air, lumpur, atau tanah yang telah terkontaminasi.
Menurutnya, risiko penularan meningkat terutama saat seseorang beraktivitas di kawasan yang tergenang air atau banjir yang tercemar urine tikus. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati, khususnya saat musim hujan atau ketika melakukan aktivitas di lingkungan yang berpotensi menjadi media penularan.
Dinkes juga mengimbau masyarakat mengenali gejala awal leptospirosis, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot terutama pada betis dan paha, sakit kepala, mata merah, mual, muntah, hingga penurunan nafsu makan.
“Apabila mengalami gejala tersebut setelah kontak dengan air banjir atau lingkungan yang diduga tercemar, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi,” tegas Imam.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Bulungan mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat beraktivitas di area yang berpotensi tercemar.
“Kami mengajak masyarakat tetap tenang, tetapi jangan lengah. Menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan langkah paling efektif untuk mencegah leptospirosis,” pungkasnya. (rm)

