Tangan-tangan kecil dan besar terangkat ketika pertanyaan tentang satwa Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dilontarkan. Ada yang ragu, ada pula yang percaya diri maju ke depan kelas. Bagi siswa yang berhasil menjawab dengan tepat, hadiah boneka satwa ikonik Kayan Mentarang sudah menanti.
Rivaldi Wiratama satukaltara.com
SUASANA belajar pun berubah menjadi lebih cair. Tidak ada kesan bahwa konservasi adalah materi yang berat. Hutan, satwa, dan lingkungan diperkenalkan melalui cara yang dekat dengan dunia anak-anak dan remaja: bermain, berdiskusi, menjawab kuis, sekaligus mendapatkan hadiah.
Itulah cara Balai TN Kayan Mentarang melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan mengenalkan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada pelajar di kawasan perbatasan Kabupaten Nunukan.
Program yang berlangsung sepanjang Juni-Juli 2026 tersebut menyasar siswa SMP dan SMA di wilayah Krayan hingga Nunukan. Tujuannya sederhana, tetapi penting: menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak bangku sekolah.
“Jadi, siswa yang berani tampil dan mampu menjawab pertanyaan dengan tepat mendapatkan cenderamata berupa boneka satwa ikonik Kayan Mentarang. Ini sebagai bentuk apresiasi kita juga terhadap para siswa yang antusias dalam mengenal berbagai satwa Kayan Mentarang,” ujar Hery, Rabu (12/8/2026).
Selama ini, kata konservasi mungkin terdengar seperti sesuatu yang jauh dari kehidupan pelajar. Namun bagi siswa yang tinggal di Krayan dan Nunukan, hutan justru berada sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Karena itu, petugas TNKM tidak hanya membawa materi tentang kawasan konservasi ke dalam kelas. Mereka mengajak siswa mengenali apa yang ada di sekitar mereka, mulai dari hutan hingga beragam flora dan fauna yang menjadi kekayaan kawasan TNKM.
Diskusi dibuat dua arah. Siswa diberi kesempatan bertanya dan menjawab. Permainan digunakan untuk mencairkan suasana, sementara kuis menjadi cara untuk menguji sejauh mana pengetahuan mereka tentang lingkungan.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya duduk mendengarkan. Mereka ikut terlibat dalam proses belajar. Bagi petugas konservasi, keterlibatan itu penting. Sebab, semakin dekat anak-anak mengenal lingkungan di sekitarnya, semakin besar peluang tumbuhnya rasa memiliki terhadap alam.
Perjalanan edukasi lingkungan ini dimulai pada 18 Juni 2026 di SMPN 1 Krayan Selatan. Para siswa diperkenalkan dengan hutan dan kawasan TNKM, termasuk keanekaragaman hayati yang terdapat di sekitar tempat tinggal mereka.
Sebulan kemudian, kegiatan berlanjut ke sejumlah sekolah di Nunukan.
Pada 27 Juli, tim mendatangi SMPN 2 dan SMAN 1 Nunukan. Sehari berselang, edukasi dilanjutkan di SMAN 2 Nunukan. Berikutnya, SMAN 3 Nunukan pada 29 Juli.
Pada 30 Juli, kegiatan kembali menyentuh kawasan Krayan melalui SMAN 1 Krayan Induk. Rangkaian PLH kemudian ditutup di SMPN 1 Nunukan pada 31 Juli. Ratusan siswa terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Di setiap sekolah, pesan yang dibawa tetap sama: hutan bukan hanya hamparan pepohonan dan satwa bukan sekadar objek untuk dilihat. Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Di SMAN 1 Krayan Induk, materi konservasi bahkan dikaitkan dengan kearifan lokal masyarakat.
Hal ini menjadi penting karena kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan memiliki hubungan erat dengan alam. Pengetahuan dan kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan merupakan bagian dari modal sosial untuk melindungi hutan.
Petugas TNKM berupaya menunjukkan kepada siswa bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Kesadaran dapat tumbuh dari hal-hal sederhana, seperti mengenal satwa, memahami fungsi hutan, dan mengetahui mengapa kawasan tersebut perlu dilindungi.
“Kita tidak hanya memperkenalkan kondisi hutan dan satwa, tetapi juga diajak memahami bahwa mereka memiliki peran dalam menjaga lingkungan di wilayah perbatasan,” ungkap Hery.
Pesan itu menjadi semakin relevan bagi generasi muda yang kelak akan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan.
Pada akhirnya, boneka satwa yang dibawa pulang siswa mungkin hanya sebuah cenderamata. Namun di balik hadiah kecil tersebut terdapat pesan yang jauh lebih besar.
Setiap kali melihat boneka itu, siswa diharapkan kembali mengingat satwa yang hidup di hutan Kayan Mentarang. Dari ingatan, muncul rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu, tumbuh pengetahuan. Dan dari pengetahuan, diharapkan lahir kepedulian.
Balai TN Kayan Mentarang menyadari bahwa menjaga kawasan hutan tidak cukup hanya dengan pengawasan di lapangan. Perlindungan jangka panjang juga membutuhkan generasi yang memahami arti penting hutan dan keanekaragaman hayati.
Sebab, hutan Kayan Mentarang bukan hanya milik hari ini. Ia adalah ruang hidup yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dan di ruang-ruang kelas sekolah perbatasan itu, proses pewarisan tersebut mulai ditanamkanādengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mungkin dimulai dari sebuah pertanyaan kuis serta boneka satwa. (***)