TARAKAN – Api tak selalu terlihat untuk menjadi ancaman. Di sejumlah kawasan Kota Tarakan, bara justru diduga menyala di bawah tanah, membakar lapisan batubara yang tersimpan di dalamnya. Kondisi ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan harus menghadapi pola kebakaran yang tak cukup diselesaikan dengan menyiram permukaan.
Kepala BPBD Tarakan Yonsep mengatakan, sedikitnya terdapat empat lokasi yang terindikasi mengalami pembakaran batubara bawah permukaan. Dua titik berada di kawasan Pantai Amal, masing-masing di sekitar Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan STIE. Dua lokasi lainnya berada di Juata Kerikil dan Pasir Putih, Jalan Bhayangkara, Kelurahan Karang Anyar.
“Yang kita lihat sekarang memang perlu penanganan berbeda karena sumber panasnya bisa berada di bawah tanah,” kata Yonsep.
Kawasan sekitar UBT dan Jalan Bhayangkara menjadi perhatian karena lokasinya tidak jauh dari akses jalan. Di kawasan menuju Pantai Amal, area yang diduga terdampak pembakaran batubara diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.
BPBD masih memeriksa apakah kejadian tersebut merupakan kebakaran baru atau sisa kebakaran lama yang kembali aktif di bawah permukaan. Kajian mengenai kondisi bawah tanah juga belum dilakukan secara mendalam.
“Secara kasat mata memang ada indikasi, tetapi tim masih turun untuk memastikan apakah ini memang kebakaran yang terjadi sekarang atau ada kebakaran lama yang tersimpan di dalam dan kembali aktif,” ujarnya.
Menurut Yonsep, kebakaran batubara memiliki karakter berbeda dibanding kebakaran vegetasi di permukaan. Api dapat bertahan di bawah tanah sehingga penyiraman dari atas tidak selalu efektif. Panas dari sumber api membuat air cepat menguap, sedangkan titik api tetap menyala.
Penanganan konvensional, kata dia, harus dilakukan dengan mengupas bagian tanah yang terbakar sebelum menutup kembali area tersebut. Teknologi khusus sebenarnya tersedia, tetapi membutuhkan biaya besar. Untuk sementara, BPBD mengandalkan metode konvensional sembari berkoordinasi dengan instansi terkait.
Asap yang muncul dari permukaan tanah menjadi salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai. BPBD meminta masyarakat segera melaporkan temuan tersebut, terutama di kawasan yang memiliki indikasi kandungan batubara.
“Kalau masyarakat melihat asap, itu sudah menjadi tanda awal. Jangan menunggu sampai apinya terlihat besar karena sumbernya bisa berada di dalam,” kata Yonsep.
Ancaman tidak berhenti pada kebakaran. Pembakaran batubara di bawah permukaan dapat membentuk rongga yang berpotensi mengurangi kestabilan tanah. Risiko itu menjadi lebih serius apabila rongga terbentuk di bawah atau di sekitar infrastruktur publik.
“Kalau pembakaran batubara, pasti ada rongga yang terbentuk. Rongga itu memiliki potensi longsor. Apalagi kalau lokasinya dekat jalan, memang harus segera kita lakukan mitigasi,” ujarnya.
Indikasi gangguan terhadap jalan disebut sudah terlihat di sekitar lokasi. Sebelumnya, terdapat bagian jalan yang berlubang hingga menembus lapisan aspal dan telah ditangani Dinas Pekerjaan Umum. Namun, titik pembakaran kembali ditemukan dari sisi timur kawasan tersebut.
“Memang ada lubang di sana dan sebelumnya sudah diselesaikan oleh PU. Tetapi sekarang yang terbakar kembali dari sisi timurnya. Karena potensi area yang terdampak ini kurang lebih satu hektare, maka harus ada langkah mitigasi supaya tidak berkembang ke bagian lain,” kata Yonsep.
BPBD kini memprioritaskan pemutusan sumber api. Adapun kondisi badan jalan dan langkah pengamanan infrastrukturnya akan dikaji bersama instansi teknis.
“Dari BPBD, mitigasinya kita putus apinya dulu. Untuk jalan, itu perlu kajian bersama PU karena merupakan infrastruktur publik,” ujarnya.
Persoalan lain muncul dari ketersediaan air. Di sejumlah lokasi, petugas harus menunggu suplai karena sumber air baku tidak selalu tersedia di sekitar titik kebakaran. Salah satu opsi yang disiapkan ialah membuat kolam tampungan dan memindahkan air menggunakan mesin portabel.
BPBD menilai kajian geologi diperlukan untuk memastikan luasan material yang terbakar serta dampaknya terhadap struktur tanah dan jalan. Kajian dapat melibatkan instansi teknis, akademisi, maupun ahli geologi.
Selain empat titik di Pantai Amal, Juata Kerikil dan Pasir Putih, BPBD juga memantau kawasan lain yang diduga mengalami aktivitas pembakaran bawah permukaan, termasuk area antara Kampung 4 dan Kampung 6.
Sepanjang Agustus 2026, BPBD Tarakan mencatat 21 titik kebakaran dengan total lahan terdampak sekitar 52,82 hektare. Temuan kebakaran batubara bawah tanah menambah dimensi baru persoalan kebakaran lahan di Tarakan, api yang tak terlihat, tetapi berpotensi menggerus tanah dan mengancam infrastruktur dari bawah. (rz)

