Jari Ibu Marta Mikaela, 54 tahun, masih cekatan menarik benang. Sehelai demi sehelai. Di depannya, alat tenun kayu berdentang: tek… tek… tek….
Muhammad Rizqiyanto Firdaus, Satukaltara.com
SEJAK 2018, Marta bekerja di usaha tenun milik Yohanes Suyanto, 55 tahun. Delapan tahun mereka menghidupkan alat itu bersama. Namun, belakangan bunyinya tak lagi seramai dulu.
Satu kegiatan pemerintah yang sebelumnya bisa menyerap sekitar 10 lembar kain, kini hanya sekitar lima lembar. Bagi Yohanes, penurunan itu bukan sekadar angka dalam catatan penjualan. Itu berarti berkurangnya penghasilan untuk menghidupi lima anaknya.
“Dulu biasanya setiap kegiatan Karya Kreatif Benuanta bisa mencapai sekitar 10 lembar. Tahun ini turun menjadi sekitar lima lembar,” sebut Yohanes dengan mimik wajah kecewa.
Perubahan itu terasa sejak pemerintah menerapkan kebijakan efisiensi. Kegiatan dan event pemerintah yang selama ini menjadi salah satu pasar utama tenunannya ikut berkurang.
“Pasar kami sekitar 80 sampai 90 persen terbantu oleh kegiatan pemerintah. Dalam satu tahun, sebelumnya kegiatan seperti itu bisa berlangsung hampir setiap bulan,” ujar Yohanes.
Dampaknya menjalar lebih jauh. Desainer di Jakarta yang selama ini bekerja sama dengannya ikut merasakan lesunya pasar. Rencana membawa tenun Tarakan ke luar negeri yang telah disiapkan sejak awal tahun pun batal.
“Kami tidak mungkin berjalan sendiri. Kami masih sangat mengharapkan dukungan pemerintah,” katanya.
Yohanes memulai usaha tenun pada 2018. Tiga tahun pertama ia berjalan sendiri. Pada 2021, ia mendapat pembinaan dari Bank Indonesia. Selama empat tahun, ia belajar memperbaiki teknik produksi, pemasaran digital, hingga membaca selera pasar.
Dukungan itu bukan sekadar pelatihan. Yohanes mendapat sejumlah peralatan, antara lain alat tenun, alat penangas, tandon air, dan alat penggiling warna. Perlahan, produknya menembus pasar Jakarta, termasuk Jakarta Selatan. Penjualan juga mulai dilakukan secara daring. “Bantuan selama ini hanya berupa barang. Tidak ada bantuan berupa uang tunai,” ujar Yohanes.
Kini omzetnya memang menurun. Namun tenunannya belum kehilangan pembeli. Setiap bulan masih ada satu hingga dua lembar kain yang terjual. Peminat dari kalangan usia menengah pun relatif bertahan.
Di tengah pasar yang menyempit, Yohanes memilih bertahan. Baginya, usaha tenun tidak bisa hanya bergantung pada keadaan.
“Usaha ini tergantung dari kemauan dan niat. Ketika mengalami kendala atau hambatan, tetap harus dijalani dan jangan langsung menyerah. Harus telaten,” katanya.
Prinsip itu pula yang ia tanamkan kepada Marta. Meski jam kerja berkurang, Marta tetap datang dan menenun. Tangannya terus bergerak, menjaga alat kayu itu tetap berdetak.
Tek… tek… tek….
Bagi Yohanes, suara alat tenun bukan semata bunyi dari sebuah pekerjaan. Di sana ada identitas Tarakan yang ingin ia pertahankan. Ada usaha yang ia bangun sejak 2018. Ada Marta dan pekerja lain yang menggantungkan penghasilan pada kain yang mereka hasilkan. Dan ada lima anak yang harus terus ia sekolahkan.
Karena itu, harapannya sederhana. “Semoga kebijakan efisiensi ini kalau bisa segera berakhir,” ujar Yohanes penuh harap.
Ia tidak meminta banyak. Ia hanya berharap pemerintah kembali membuka ruang bagi kegiatan dan event yang selama ini menjadi pasar bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya.
Selama alat tenun masih berdentang, Yohanes dan Marta akan terus bekerja. Menunggu pasar kembali ramai. Menunggu lima lembar yang hilang kembali menjadi sepuluh.
Sebab bagi mereka, setiap helai benang bukan sekadar bahan untuk membuat kain. Ia adalah bagian dari usaha untuk menjaga tenun Tarakan tetap hidup dan memastikan benangnya tidak putus di tangan mereka. (***)