KALTARABULUNGAN

Remaja Putri Jadi Sasaran, Dinkes Kaltara Genjot Cegah Stunting

TANJUNG SELOR – Upaya menekan angka stunting di Kalimantan Utara (Kaltara) kini menyasar kelompok remaja. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara memperkuat pemantauan tumbuh kembang dan kesehatan anak sejak usia dini hingga remaja, termasuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kaltara Arif Rahman mengatakan, pemantauan tumbuh kembang anak menjadi salah satu fokus pelayanan kesehatan. Menurutnya, kondisi kesehatan pada fase awal kehidupan menjadi fondasi penting dalam menentukan kualitas generasi mendatang.

“Pelayanan kesehatan terus difokuskan pada tumbuh kembang dan kesehatan anak. Kesehatan pada usia dini dan remaja sangat menentukan masa depan anak serta kualitas generasi mendatang. Secara optimal kami juga selalu memantau kondisi dampak karhutla,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).

Pemantauan dilakukan melalui pengumpulan data secara terpadu dari puskesmas di seluruh kecamatan dan kabupaten/kota. Data tersebut menjadi dasar untuk melihat perkembangan kondisi kesehatan anak sekaligus mengevaluasi berbagai intervensi yang dilakukan. Termasuk tren penurunan prevalensi stunting yang terus dipantau secara konsisten.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kaltara Dadang Hermanto menjelaskan, pencegahan stunting tidak lagi hanya berfokus pada balita. Intervensi juga diarahkan kepada remaja, khususnya remaja putri melalui penanganan anemia.

“Penanganan dan pencegahan stunting kini diprioritaskan sejak usia remaja. Remaja putri yang sehat diharapkan menjadi calon ibu yang sehat sehingga dapat melahirkan anak-anak yang terbebas dari stunting,” jelasnya.

Untuk mendeteksi kondisi tersebut, petugas puskesmas secara berkala diterjunkan ke sekolah-sekolah di wilayah Kaltara. Melalui program penjaringan kesehatan, remaja putri menjalani pemeriksaan atau skrining anemia.

Dari hasil pemeriksaan sampel di sejumlah daerah, seperti Malinau, Tana Tidung, dan kabupaten/kota lainnya, ditemukan kasus anemia kategori sedang hingga berat yang mendekati 30 persen.

“Dari hasil pemeriksaan sampel di beberapa daerah ditemukan kasus anemia kategori sedang hingga berat pada remaja putri mendekati angka 30 persen. Angka ini bisa lebih tinggi jika memperhitungkan kategori ringan,” ungkap Dadang.

Ia menambahkan, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam keberhasilan program tersebut. Dinkes Kaltara mengapresiasi semakin terbukanya orang tua terhadap pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di sekolah.

Jika ditemukan masalah kesehatan, hasil pemeriksaan akan segera dikomunikasikan kepada orang tua untuk ditindaklanjuti. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan sekaligus menekan risiko anemia dan persoalan kesehatan lainnya yang berpotensi memengaruhi kualitas kesehatan anak di masa depan. (rk)

Facebook Comment
Back to top button