KALTARANUNUKAN

Sembakung Banjir Lagi, Fasilitas Pendidikan Terendam, Akses Jalan Hanya Gunakan Ketinting

NUNUKAN – Intensitas hujan tinggi yang terus terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Nunukan sejak awal tahun 2026. Tentu saja kondisi cuaca yang tidak bersahabat ini memberikan dampak signifikan dengan naiknya debit air yang mengakibatkan banjir.

Salah satu daerah terdampak itu adalah Kecamatan Sembakung. Akibatnya sejumlah fasilitas penting, seperti Pos Pemadam Kebakaran (Damkar), SD 001 Sembakung dan beberapa rumah warga tenggelam akibat dilahap banjir. 

Update pagi ini ada fasilitas umum yang sudah terendam banjir. Fasilitas umum lainnya masih aman namun ada sebagian sekolah yang sudah terendam air banjir pada halamannya karena sangat rendah dari badan jalan,” ungkap Camat Sembakung Arif Agus Darmawan saat dikonfirmasi satukaltara.com.

Berdasarkan pantauan tiang ukur tadi pagi, papar Arif, tinggi muka air di wilayah Tembelunu sudah mencapai 1,15 meter. Kondisi tersebut membuat akses jalan tidak dapat dilewati dengan kendaraan darat biasa, sehingga masyarakat yang melakukan aktivitas harian hanya dapat menggunakan kendaraan perahu motor (ketinting).

Untuk Desa Atap, lanjut Arif, khususnya RT 6 dan RT 7, Dusun Tembelunu/Salid, pihaknya belum mendapatkan laporan terkait rumah warga yang terdampak langsung oleh banjir. Namun, naiknya debit air Sungai Sembakung cukup membuat warga was-was.

Seperti diketahui, Kecamatan Sembakung memang ‘akrab’ dengan banjir. Setiap tahun, setiap hujan deras dengan durasi panjang akan membuat sejumlah sungai di sana meluap. Arif menyebut, banjir kali ini datang dari empat sungai hulu yang meluap, yaitu Sungai Sabuluan, Sungai Mambulu, Sungai Kalampising, dan Sungai Sepakung 4.

“Keempat sungai tersebut bermuara di hilir Sungai Sembakung, sehingga kondisi banjir di hulu secara langsung mempengaruhi tinggi muka air di wilayah Kecamatan Sembakung,” jelasnya.

Morrou Agus, anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang bertugas di wilayah tersebut menambahkan, saat ini mereka melakukan siaga tanggap, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan bekerja sama dengan aparatur desa memberi informasi ke setiap desa yang terdampak agat cepat mengungsi sementara waktu.

“Hanya saja masyarakat memilih tetap berada di rumah, karna sudah menjadi kebiasaan sebagai banjir tahunan, jadi yang paling dibutuhkan masyarakat  adalah makanan untuk bertahan,” kata Morrow Agus.

Malam ini dan besok, lanjutnya, tim akan berangkat ke lokasi yang kondisi banjirnya parah. Selain tetap waspada terhadap kemungkinan berat yang akan dihadapi, Morrow Agus dan rekan-rekannya akan terus melakukan tugas sambil menunggu arahan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan.

“Di Sembakung Atulai belum ada lumbung penampungan logistik untuk korban banjir, jadi kita menggu dari kabupaten baru kita bertindak,” pungkasnya. (sym)

Berikan komentarmu!
Show More

Related Articles

Back to top button