EKONOMIKALTARATARAKAN

Peternak Lokal ‘Dihajar’ Mitra Berskala Nasional, Harga Ayam di Tarakan Terjun Bebas

TARAKAN – Peternak ayam pedaging di Kota Tarakan tengah dilanda keresahan. Pasalnya, harga kontrak yang mencolok antara agen lama dengan mitra baru yang disinyalir disokong perusahaan skala nasional dinilai sangat merugikan.

Ketua Koperasi Produsen Peternak Ayam Pedaging Tarakan (KPPAPT), Sahat Maruntung Sipahutar mengungkapkan, keresahan tersebut sudah disampaikan saat menghadiri rapat bersama DPRD Tarakan, pada Senin (5/1/2026). Dalam pertemuan tersebut diungkapkan pula kondisi usaha mereka yang ‘diserang’ harga lebih murah oleh perusahaan besar tersebut. Hal ini, kata Sahat, akan berpotensi mengacaukan harga pasar, menggerus margin peternak lokal, hingga membuka celah terjadinya monopoli usaha.

“Tujuan kami datang ke DPRD karena plasma yang ada di Tarakan sudah sangat risau dengan hadirnya mitra baru, yaitu Mitra Senang Jaya (MSJ) yang dijembatani POPAN. Ini bisa dibilang sudah bangkrut sekitar enam bulan lalu, lalu muncul mitra baru dengan kontrak harga jauh lebih rendah,” ujar Sahat.

Menurutnya, agen lama selama ini menetapkan harga kontrak sebesar Rp31 ribu per kilogram, sementara mitra baru hanya Rp25 ribu per kilogram, atau selisih sekitar Rp6 ribu. Dengan harga kontrak yang murah ini, kata Sahat, tidak menutup kemungkinan ayam akan dilempar ke pasar dengan harga rendah.

“Kalau mereka jual di Rp26 ribu, otomatis ayam mereka yang laku. Agen kami mau tidak mau harus ikut, dan akhirnya menanggung subsidi sampai Rp5–6 ribu per kilogram,” jelasnya.

Sahat juga menegaskan, dampak paling berat justru akan dirasakan peternak plasma. “Kalau harga kontrak kami diturunkan dari Rp31 ribu ke Rp27 ribu, kami bisa kehilangan 30 sampai 70 persen dari pendapatan sebelumnya. Itu yang membuat kami sangat resah,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Simon Patino mengakui adanya persaingan harga yang tidak sehat antara pelaku usaha lama dan mitra baru. Dia pun berharap, persaingan harga ini tidak terjadi sehingga iklim usaha di Kota Tarakan tetap kondusif dan berjalan baik.

“Peternak yang existing saat ini menjual di Rp31 ribu, sementara inti yang baru menjual di Rp28 ribu. Ini jelas menggerus margin peternak lama. Ada persaingan, tapi jangan sampai persaingan ini mematikan yang lokal,” kata Simon.

Politisi Partai Gerindra ini juga tak memungkiri adanya keterlibatan perusahaan besar bernama MSJ. Secara prinsip, kata Simon, MSJ mengaku harga tersebut adalah harga terbaik untuk masyarakat Kota Tarakan.

“Tapi faktanya, ini mengacau harga pasar yang sudah ada. Yang kita khawatirkan, pengusaha lokal berbenturan dan akhirnya terjadi monopoli,” jelasnya.

Dari hasil rapat, lanjut Simon, DPRD Kota Tarakan menemukan adanya perbedaan signifikan pada biaya produksi, khususnya pada DOC (Day Old Chick) dan pakan. Untuk 3.000 DOC yang baru, kata dia, harganya sekitar Rp28,5 juta, sedangkan yang lama Rp37,5 juta.

“Padahal sumber DOC-nya sama. Pakan yang lama sekitar Rp134 juta untuk 230 karung, sementara yang baru Rp129 juta dengan jumlah sama. Dari sini saja sudah kelihatan kenapa mereka bisa jual lebih murah,” bebernya.

Akibat perbedaan biaya tersebut, papar Simon lagi, margin peternak menurun drastis. Yang biasanya sekira Rp19,8 juta, sekarang dengan pola baru hanya sekitar Rp7 juta. Namun, untuk meredam konflik, Simon bersama rekan-rekannya di Komisi II DPRD Kota Tarakan akan membentuk tim kecil guna mengkaji perbedaan data dan struktur biaya produksi.

“Kita tidak mau mengadu data. Makanya kita buat tim kecil supaya kondusif. Kita ingin bicara berdasarkan fakta di lapangan,” kata Simon.

DPRD juga membuka peluang penetapan harga batas atas dan batas bawah agar harga ayam tetap stabil di Tarakan. “Harapannya ada range harga yang berlaku untuk semua agen, termasuk yang baru, khusus di Kota Tarakan,” tegasnya. “Kita (juga) mau lihat apakah kita kunci di harga jual, atau di sumber pakan dan DOC-nya, supaya semua inti punya struktur biaya yang sama,” tambah Simon.

Rapat akan dilanjutkan pada Jumat pekan ini pukul 14.00 WITA, dengan agenda penyampaian hasil kajian tim kecil. “Kita harapkan nanti ada MOU antar sesama pedagang inti, supaya tidak saling mematikan dan harga ayam di Tarakan tetap stabil,” tutup Simon. (rz)

Berikan komentarmu!
Show More

Related Articles

Back to top button