KALTARANASIONALNUNUKAN

Dikritik DPRD Nunukan, Embung Sei Fatimah Ternyata Belum Diserahkan ke PDAM

NUNUKAN – Setelah Anggota DPRD Nunukan Muhammad Mansur mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi Embung Sei Fatimah yang tidak difungsikan sejak selesai dibangun, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor akhirnya buka suara. melalui Divisi Pengawas Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor, Taufik menjelaskan, embung yang kini disorot kegunaannya itu sejak awal dirancang sebagai sarana serbaguna, bukan hanya untuk penyaluran air bersih.

“Embung ini dibangun sebagai embung multifungsi. Mulai dari pengendalian banjir, penyediaan air irigasi pertanian masyarakat sekitar, hingga air baku bagi warga,” ungkapnya saat dikonfirmasi via telepon pada Jumat (9/1/2026). 

Dijelaskan Taufik, lahan untuk pembangunan embung tersebut bersumber dari hibah masyarakat, sedangkan urusan pemanfaatan air lebih berada di kewenangan PDAM Kabupaten Nunukan.

“Kalau membahas pemanfaatan, itu perlu dibicarakan bersama PDAM, apakah untuk air bersih, irigasi, atau kebutuhan lain,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Teknik Perumda Tirta Taka Nunukan Rusdianysah mengungkapkan, awalnya embung direncanakan untuk mendukung distribusi air, termasuk bagi RSUD Nunukan. Namun, lokasinya dinilai kurang ideal karena tidak memiliki sumber air yang jelas dari aliran sungai maupun mata air, sehingga pemenuhan kebutuhan sangat bergantung pada curah hujan.

PDAM juga menyampaikan harapan agar embung segera mendapatkan pembangunan lanjutan, mengingat beberapa fasilitas penunjang seperti Instalasi Pengolahan Air (IPA) masih belum tersedia. Hal ini membuat pengoperasian embung belum dapat dilakukan secara optimal. “Kami belum diserahterimakan. Makanya kami tidak bisa memanfaatkan embung itu,” jelas Raudianysah saat dikonfirmasi di kantornya.

Ia menegaskan, untuk digunakan sebagai sumber air bersih bagi warga, embung wajib dilengkapi IPA. Embung Sei Fatimah yang memiliki luas lebih dari satu hektare dengan kedalaman hampir 15 meter saat ini belum memiliki fasilitas tersebut.

“Harus ada IPA. Kalau hanya embung bagaimana kami menyalurkan ke warga,” katanya.

Rusdianysah menjelaskan, selama ini kebutuhan air RSUD Nunukan dilayani oleh Embung Binusan, yang telah memiliki perlengkapan IPA dan fasilitas pendukung lainnya. “Tidak pernah ada serahterima, jika memang sudah pasti sudah ada perhatian kami lakukan. Minimal ada petugas yang ditempatkan di sana untuk memantaunya,” ujarnya yakin. (sym)

Berikan komentarmu!
Show More

Related Articles

Back to top button