TARAKAN – Komitmen perlindungan dan pemulihan ekosistem mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara) kian menguat. Hal itu ditandai dengan penandatanganan komitmen kolaboratif multipihak yang disaksikan langsung Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, pada peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026 yang dipusatkan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan, Jumat (6/2/2026) lalu.
Kegiatan berskala nasional tersebut menjadi pengakuan atas posisi strategis Kaltara sebagai salah satu benteng utama ekosistem lahan basah Indonesia. Menteri Kehutanan hadir didampingi Gubernur Kaltara Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, bersama perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi internasional, mitra pembangunan, hingga sektor swasta.
Dalam sambutannya, Raja Juli Antoni menegaskan bahwa lahan basah tidak boleh lagi dipandang sebatas wilayah tergenang air, melainkan aset ekologis dan ekonomi yang bernilai tinggi.
“Saya berharap lahan basah ini tidak hanya dipahami sebagai wilayah yang basah, tetapi sebagai kawasan dengan biodiversitas yang sangat tinggi, sumber ekonomi yang baik, sekaligus memiliki potensi besar dalam penyerapan karbon,” ujar Raja Juli Antoni.
Penandatanganan komitmen multipihak tersebut menjadi simbol penguatan kerja sama lintas sektor dalam pengelolaan dan rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan di Kaltara. Kolaborasi melibatkan Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, mitra pembangunan Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Forest Programme VI, Program NASCLIM yang diwakili Global Green Growth Institute (GGGI), serta dukungan sektor swasta seperti PT Pertamina EP Tarakan Field dan PT Mustika Minanusa Aurora Tbk.
Secara nasional, Kaltara dikenal memiliki potensi lahan basah yang sangat besar, dengan luas sekitar 326.396 hektare hutan mangrove dan 347.451 hektare lahan gambut. Ekosistem tersebut berperan penting sebagai penyerap karbon, habitat keanekaragaman hayati, serta pelindung alami dari abrasi pantai dan dampak cuaca ekstrem.
Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, Ir. Dyah Murtiningsih, M.Hum., dalam laporannya menyebutkan bahwa peringatan Hari Lahan Basah Sedunia tahun ini mengusung tema global yang menekankan pentingnya pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
“Tema ini sekaligus menegaskan peran Indonesia dalam kepemimpinan pengelolaan lahan basah di tingkat global,” jelas Dyah.
Melalui program M4CR dan NASCLIM di bawah koordinasi Kementerian Kehutanan, pemerintah terus mendorong pemulihan mangrove yang terdegradasi melalui penanaman kembali, regenerasi alami, serta penguatan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada ekosistem mangrove.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan peninjauan langsung Menteri Kehutanan ke kawasan KKMB Tarakan, termasuk pengamatan habitat bekantan. Kunjungan ini menegaskan peran KKMB sebagai laboratorium hidup yang mendukung pendidikan, penelitian, dan pelibatan masyarakat dalam upaya pelestarian lahan basah secara berkelanjutan. (rz)


