SATU BORNEOHUKUM & KRIMINALKALTARATARAKANUMUM

Barongsai Tak Pernah Lepas dari Klenteng, Ketua MAKIN Tarakan: Tradisi, Seni, dan Simbol Hormat

TARAKAN – Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Tarakan selalu identik dengan kemeriahan barongsai. Namun di balik atraksi lompat tiang dan tabuhan gendang yang menggema, tersimpan nilai tradisi dan penghormatan yang tak terpisahkan dari klenteng.

Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Tarakan, Ayi Diyanto menegaskan, setiap pertunjukan barongsai selalu diawali dengan prosesi permisi di klenteng. Kata Ayi, selama perayaan Imlek hingga puncaknya pada hari ke-15, para pemain barongsai wajib datang ke klenteng untuk memohon izin sebelum tampil di luar.

“Mereka mau ada pertunjukan di Kota Tarakan, pasti datang ke klenteng mohon permisi. Begitu juga setiap ada pertandingan ke luar kota, harus permisi dulu. Karena di sinilah tempat mereka, singanya harus hormat dulu di klenteng,” jelasnya.

Ayi menjelaskan, barongsai merupakan seni tari tradisional Tionghoa yang sudah diwariskan turun-temurun. “Cara melompatnya saling lompat-lompat. Ini tradisi dari nenek moyang kita, hiburan sekaligus bagian dari ritual di klenteng supaya acara keramaian itu ada,” katanya.

Ia menambahkan, barongsai berbeda dengan tarian naga. Jika tarian naga dimainkan sekitar 10 orang, barongsai hanya dimainkan dua orang dalam satu kostum singa, didukung delapan penabuh musik pengiring. “Barongsai itu identik singa, bukan naga. Tarian naga lain lagi,” tegasnya.

Di Kalimantan Utara, pengembangan barongsai cukup membanggakan. Tarakan dikenal fokus pada nomor lompat tiang dan bahkan pernah menyumbang medali emas pada ajang PON di Medan.

“Kalau di Tarakan kita khusus barongsai lompat tiang. Kita pernah juara emas di PON Medan,” ungkap Ayi.

Sementara untuk tarian naga, pembinaan lebih difokuskan di Kabupaten Malinau. Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan barongsai tahun ini terbilang tinggi. Ayi memperkirakan sekitar 600 umat Khonghucu hadir menyaksikan pertunjukan di klenteng, ditambah ratusan masyarakat umum.

“Kalau umat sekitar 600 orang. Masyarakat umum juga ratusan, mungkin tiga ratusan. Begitu musik mulai, dari jam 6 masyarakat sudah tunggu di depan,” katanya.

Ia menilai cuaca yang cerah menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah penonton dibanding hari sebelumnya yang diguyur hujan. Menariknya, perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Sebagai Ketua MAKIN Tarakan sekaligus pengurus klenteng dan Wakil Ketua FKUB, Ayi menginstruksikan agar pertunjukan barongsai tidak mengganggu umat Muslim yang menjalankan ibadah.

“Saya sudah instruksikan kepada pemain barongsai, kalau tampil di bulan puasa, kita sampai jam 7 saja. Nanti orang tarawih tidak terganggu. Sebelum jam 7 sudah stop,” tegasnya.

Ia pun menyampaikan pesan khusus kepada umat Islam yang menjalankan ibadah puasa. Ayi juga berharap momen kedekatan Imlek dan Ramadan ini menjadi simbol harmonisasi antarumat beragama di Kota Tarakan.

“Semoga umat Muslim melaksanakan puasa dengan khusyuk. Semoga sukses bagi umat Islam menjalankan ibadah puasanya,” ucapnya. Besok kita bertamu ke keluarga dulu. Kebetulan Pak Wali, Ketua DPR dan Forkopimda mau datang setelah Zuhur, sekitar jam 1 siang,” sambungnya. (rz)

Show More
Back to top button