SATU BORNEOKALTARANASIONALNUNUKAN

Pilot Pelita Air Meninggal Dunia, Danlanud Anang Busra Pastikan KNKT Lakukan Investigasi

TARAKAN – Kecelakaan udara yang menimpa Kapten Hendrik, pilot Pelita Air di kawasan perbukitan Pa’ Ramayo, Desa Pa’ Betung, Kecamatan Krayan Timur sudah ditangani dengan baik oleh pihak terkait. Jasad korban sudah dipersiapkan dibawa ke Jakarta untuk disemayamkan di rumah duka.

Namun, penyebab kecelakaan tersebut hingga saat ini belum juga diketahui. Dalam jumpa pers yang dipimpin Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Anang Busra, Marsma TNI Andreas A. Dhewo, M.Sc., M.Si (Han), hanya disebutkan bahwa saat lepas landas dari Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan, Kecamatan Krayan, pesawat perintis tersebut dalam kondisi baik. Sebelum lepas landas untuk kembali ke Tarakan, pesawat tersebut diketahui sempat menuntaskan tugasnya mengantar Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Berdasarkan keterangan dari Pelita Air Service, untuk fuel atau bahan bakar (sebanyak 4 ton) itu sudah diturunkan di lokasi. Sehingga pesawat ini dalam rangka kembali ke home base-nya di Tarakan, dari Krayan menuju Tarakan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, saat pesawat mengudara beberapa menit, tiba-tiba pesawat itu mengalami kecelakaan tidak jauh dari landasan pacu. “Baru saja airborne beberapa menit kemudian mengalami crash, tidak jauh dari runway 22, kurang lebih dua sampai tiga mil dari situ,” katanya.

Andreas juga memastikan, saat kejadian pesawat tidak membawa penumpang lain selain pilot. Terkait proses evakuasi, ia menyebutkan bahwa aparat setempat bergerak cepat begitu melihat kepulan asap di lokasi kejadian. Evakuasi dilakukan secara sinergis oleh unsur TNI, Polri, serta dibantu masyarakat sekitar.

“Yang mengevakuasi di sana adalah aparat setempat. Danpos AU yang ada di sana adalah kepanjangan tangan saya dari Lanud Anang Busra, kemudian Danramil setempat juga bersama-sama bergerak. Mereka di sana sangat kompak karena wilayahnya kecil, semua saling kenal. Dibantu juga oleh warga setempat yang concern-nya tinggi,” terangnya.

Evakuasi dilakukan melalui jalur darat mengingat kondisi geografis setempat. Fokus utama saat ini adalah penanganan korban, sementara proses investigasi akan dilakukan oleh pihak berwenang.

Lantas, apa penyebab kecelakaan hebat tersebut? Marsma Andreas menegaskan, pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut lantaran investigasi kecelakaan udara ini merupakan wewenang Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“Penyebab kejadiannya apa, kita tidak bisa sebutkan di sini karena nanti tentunya akan diselidiki dulu oleh KNKT. Rencananya besok tim KNKT bersama pihak terkait akan menuju Tarakan,” ungkapnya.

Sementara itu, keberadaan kotak hitam (black box) pesawat belum dapat dipastikan keberadaannya karena kondisi cuaca di lokasi masih kurang mendukung proses pencarian lanjutan.

“Yang penting jenazah sudah berhasil kita evakuasi. Informasi yang ada masih kami kumpulkan dan nanti kalau ada update akan kami sampaikan,” pungkasnya. (rz)

Show More
Back to top button