KALTARANASIONALNUNUKANTARAKAN

Jenazah Pilot Pelita Air Dipulangkan, Perusahaan Pastikan Investigasi Transparan

TARAKAN — Suasana duka masih menyelimuti proses pemulangan jenazah Captain Hendrik Ludwig Adam, pilot Pelita Air Service yang gugur dalam insiden pesawat kargo pengangkut BBM, Kamis (19/2/2026). Setelah dievakuasi dari Long Bawan, jenazah almarhum tiba di Tarakan sebelum diberangkatkan ke Jakarta untuk dimakamkan di Bogor.

Safety Director PT Pelita Air Service, Capt. Erriza Muslim menegaskan, fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan jenazah almarhum sampai ke keluarga dengan aman dan penuh penghormatan. Dalam proses tersebut, dilakukan penyerahan jenazah dari tim SAR Tarakan kepada pihak Pelita Air sebagai bagian dari prosedur resmi penanganan korban.

Di tengah suasana duka, Pelita Air juga memastikan investigasi atas insiden pesawat PK-PAA dilakukan secara terbuka dan sesuai prosedur. Erriza menegaskan, pihaknya bekerja sama penuh dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia untuk mengungkap kecelakaan udara ini.

“Koordinasi penuh dilakukan untuk memastikan semua tahapan investigasi sesuai prosedur, dan kami berkomitmen menjaga keterbukaan informasi terkait insiden pesawat PK-PAA,” tegasnya.

DIPULANGKAN : Korban dipulangkan menggunakan pesawat Batik Air untuk dimakamkan di rumah duka di Bogor.

Pesawat PK-PAA merupakan jenis Air Tractor AT-802 yang dioperasikan Pelita Air sejak 2021 untuk penerbangan charter kargo. Pesawat ini biasa digunakan dalam mendukung program distribusi BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan dan hanya diawaki satu orang pilot tanpa awak kabin.

Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi medan yang berat. Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan berbukit, licin, dan terjal dengan jarak sekitar 3–5 kilometer dari Bandara Long Bawan. Evakuasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI Angkatan Udara, Basarnas, AirNav Indonesia, hingga masyarakat setempat.

“Bantuan dari TNI, Polri, dan masyarakat sangat membantu kelancaran evakuasi. Semua prosedur dijalankan dengan penuh kehati-hatian agar proses penanganan korban berjalan aman dan terhormat,” ujar Erriza.

Sementara itu, Lead Engineer Pelita Air, Angga Riko juga memastikan, sebelum kecelakaan terjadi, pesawat mereka dalam kondisi laik terbang. Bahkan, Captain Hendrik disebut sangat berpengalaman terbang di langit Nunukan dan sudah tiga tahun mengoperasikan pesawat tersebut.

“Pengecekan terakhir dilakukan pada hari Minggu sebelum penerbangan, dan kondisi pesawat dinyatakan aman untuk terbang,” jelasnya.

Penerbangan tersebut berangkat dari home base Tarakan pukul 10.30 Wita menuju Long Bawan dan direncanakan kembali ke Tarakan. Pesawat membawa 4.000 liter BBM dengan distribusi 2.700 liter di tangki atas dan 1.300 liter di tangki bawah.

“Penerbangan ini bagian dari misi penting untuk memastikan pasokan energi ke wilayah perbatasan tetap lancar,” tambah Angga. (rz)

Show More
Back to top button