UMUM

Kepiting Bakau hingga Sarang Walet Dominasi Pengiriman Keluar Kaltara Saat Operasi Patuh Karantina

TARAKAN – Komoditas unggulan Kalimantan Utara (Kaltara) seperti kepiting bakau hingga sarang burung walet mendominasi arus pengiriman keluar daerah selama pelaksanaan Operasi Patuh Karantina yang digelar pada 13–27 Maret 2026.

Sementara itu, arus komoditas yang masuk ke wilayah Kaltara justru didominasi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Ketua Tim Kerja Penegakan Hukum Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Utara (BKHIT Kaltara), drh Fayshal Hakim mengungkapkan, sektor perikanan dan hasil alam masih menjadi tulang punggung distribusi komoditas keluar daerah.

“Komoditas seperti kepiting bakau, udang windu, ikan bandeng, dan sarang burung walet tercatat paling dominan dikirim keluar selama periode Operasi Patuh Karantina,” ujarnya.

Menurutnya, dominasi tersebut menunjukkan bahwa Kaltara masih sangat bergantung pada komoditas berbasis sumber daya alam sebagai andalan ekspor antardaerah. Seluruh pengiriman dilakukan melalui jalur resmi dengan memenuhi persyaratan karantina yang berlaku.

Di sisi lain, arus komoditas yang masuk ke Kaltara didominasi kebutuhan pangan, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Beberapa di antaranya adalah benih ikan, benih udang, ikan layang, ayam hidup, serta komoditas hortikultura seperti cabai, bawang merah, stroberi, dan berbagai sayuran segar.

Selain itu, komoditas strategis seperti beras juga menjadi penyumbang utama arus masuk ke Kaltara, disusul produk hewan seperti daging ayam, daging sapi, telur, serta ikan.

“Di antaranya adalah beras sebagai komoditas strategis, kemudian produk hortikultura seperti sayur dan buah segar, serta produk hewan seperti daging ayam, daging sapi, telur, dan ikan. Selain itu, bahan pangan olahan seperti makanan beku, produk kemasan, serta pakan ternak juga termasuk dalam volume yang cukup tinggi,” jelasnya.

Meski aktivitas lalu lintas komoditas cukup tinggi, dari sisi volume justru tercatat mengalami penurunan selama operasi berlangsung dibandingkan periode normal. Kondisi tersebut dinilai sebagai dampak dari penguatan pengawasan di berbagai pintu masuk dan keluar wilayah.

“Selama operasi berlangsung, volume komoditas cenderung menurun dibandingkan kondisi normal,” katanya.

Fayshal menambahkan, pelaksanaan Operasi Patuh Karantina menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan yang selama ini berjalan. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi tingkat kepatuhan masyarakat, efektivitas pengawasan, koordinasi lintas instansi, hingga kesiapan sumber daya manusia.

“Ini menjadi titik awal untuk memperkuat sistem yang lebih berkelanjutan. Melalui pengawasan rutin yang lebih ketat, pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kapasitas petugas, serta penegakan hukum yang konsisten, efektivitas pengendalian karantina tetap dapat terjaga,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat terkait kewajiban pelaporan komoditas, guna menekan potensi pelanggaran di lapangan.

Di sisi lain, meningkatnya mobilitas masyarakat selama perayaan Idulfitri 1447 Hijriah turut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karantina, terutama di sektor transportasi laut dan udara.

“Kondisi ini menuntut petugas untuk tetap cepat dan akurat dalam melakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Keterbatasan jumlah petugas serta tingginya arus orang dan barang membuat beban kerja meningkat, bahkan berpotensi memengaruhi konsentrasi di lapangan. Ditambah lagi, tingkat kepatuhan masyarakat yang masih beragam menjadi tantangan dalam pelaksanaan pengawasan.

Ke depan, lanjut Fayshal, BKHIT Kaltara memastikan penguatan sistem karantina akan terus dilakukan, mulai dari digitalisasi layanan, peningkatan kapasitas petugas, hingga penegakan hukum yang lebih tegas.
“Pengawasan tetap berjalan dengan berbagai penguatan agar lebih optimal dan mampu menekan potensi pelanggaran,” pungkasnya. (rz)

Show More
Back to top button