NUNUKANHUKUM & KRIMINAL

Penipuan Online Catut Nama Aparat, Warga Desa Salang Ditipu Puluhan Juta​

NUNUKAN – Aksi penipuan jual beli kendaraan secara daring (online) kembali memakan korban. Kali ini, seorang warga RT 01 Desa Salang, Kecamatan Tulin Onsoi, Kebupaten Nunukan bernama Udin harus menelan kerugian sebesar Rp35 juta setelah terperdaya oleh pelaku yang mengaku sebagai anggota TNI.​Peristiwa yang terjadi pada 31 Maret hingga 1 April 2026 ini tentu saja menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap modus ‘seragam’ dan harga miring di media sosial. Aksi pelaku pun terbilang rapi meski sempat mencurigakan.

Kejadian bermula saat Udin melihat unggahan iklan mobil Daihatsu Granmax (Plat KT 8350 WA) tahun 2024 seharga Rp70 juta di Facebook. Lokasi awal pada iklan tertera di Nunukan, namun saat dikonfirmasi, pelaku yang menggunakan nama ‘Rahmat’ ini berdalih ada kesalahan penulisan alamat dan menyebut unit mobi tersebut berada di Samarinda.

“Setelah negosiasi melalui WhatsApp, keduanya sepakat di harga Rp70 juta hingga sampai di Sungai Ular, Nunukan, dengan sistem bagi dua biaya pengiriman,” ungkap Udin kepada media ini.

Untuk meyakinkan korbannya, pelaku menggunakan trik psikologis yang cukup rapi, yakni dengan mengenakan atribut militer saat melakukan video call. Tak hanya itu, pelaku juga melakukan panggilan visual itu pada malam hari.

“Pelaku juga memperlihatkan celana loreng tentara di dalam bak mobil,” kata Udin lagi.

Korban yang merupakan warga pedalaman di Kecamatan Tulin Onsoi itu juga dikirimkan foto KTP dan Kartu Tanda Anggota (KTA) oleh pelaku yang diduga kuat milik orang lain untuk menjamin keamanan transaksi. Hal ini tentu saja membuat korban mulai percaya.

“Pelaku menolak sistem COD (Cash on Delivery) dengan alasan unit adalah barang berharga dan membutuhkan ‘tanda jadi’ (DP),” beber korban.

​Terbujuk oleh status pelaku yang mengaku aparat keamanan, korban akhirnya mengirimkan uang muka sebesar Rp10 juga ke rekening Bank atas nama MARNAH pada 1 April 2026 sekira pukul 21.50 WITA. Keesok harinya, pada 2 April 2026, pelau semakin gencar menekan korban dengan mengirimkan resi tiket kargo palsu dan mendesak korban membayar setengah dari harga mobil.

“Kami kirim lagi Rp25 juta pada pukul 11.34 WITA untuk bayar kargo,” katanya seraya mengaku saat itu belum menaruh curiga terhadap korban. 

Kecurigaan kemudian muncul saat pihak lain yang mengaku sebagai petugas kargo menelepon korban. Mereka meminta BPKB asli segera diantar agar unit tidak ditahan saat pemeriksaan di jalan. Upaya pelaku ini ternyata untuk memojokkan mental korban agar segera melakukan pelunasan.

“Saya mulai curiga saat saya hubungi teman di Samarinda supaya cek itu mobil,” katanya.

MULAI BERKELIT, AKSI PELAKU TERBONGKAR

Usai meminta jasa temannya untuk mengecek mobil tersebut, korban segera menghubungi pelaku untuk meminta alamat lokasi mobil tersebut. Namun, yang diberikan pelaku adalah kalimat penolakan dan berusaha menyuap teman korban.

“Bilang saja mobil sudah dicek dan aman supaya dia (korban) segera melunasi. Nanti uangnya kita bagi dua,” ungkap korban menirukan ucapan pelaku kepada teman korban.

Beruntung, teman korban masih bisa dipercaya dan segera melaporkan upaya penyuapan tersebut kepada korban. Korban pun sadar bahwa dirinya telah menjadi target penipuan yang terorganisir.

Atas peristiwa ini, korban pun berharap agar tidak terjadi pada yang lainnya. Dengan itu pula, terdapat beberapa hal yang bisa dipetik dalam peristiwa ini untuk dijadikan pelajaran agar lebih waspada, di antaranya pelaku enggan memperlihatkan wajahnya secara jelas saat video call.

Selanjutnya, calon pembeli hendaknya waspada saat penjual terlalu menonjolkan identitas sebagai aparat atau pejabat untuk menekan psikologis pembeli. Selain itu, pembeli juga harus waspada saat pelaku tidak konsisten dalam menyebutkan lokasi seperti yang tertera di iklan dan lokasi yang disampaikan saat komunikasi langsung.

​Hal lain yang harus diketahui oleh penjual adalah; penjual keberatan jika unit kendaraan atau barang yang dijual dicek oleh orang kepercayaan pembeli. Hal ini bisa dilihat saat pelaku berusaha membujuk rekan korban agar mau bekerjasama. (2ku)

Show More
Back to top button