KALTARATARAKAN

Terbentur Open Sky ASEAN, Tarakan Perkuat Jalur Ekspor

TARAKAN – Ambisi Kalimantan Utara (Kaltara) untuk memperluas ekspor langsung ke pasar internasional masih menghadapi kendala keterbatasan akses penerbangan dalam skema Open Sky ASEAN. Namun di tengah tantangan tersebut, Bandara Juwata Tarakan terus melakukan berbagai terobosan dengan memperkuat sistem layanan operasional dan memangkas waktu logistik guna meningkatkan daya saing ekspor, khususnya komoditas perikanan unggulan.

Kepala Bidang Keamanan Penerbangan dan Pelayanan Darurat Bandara Juwata Tarakan, Daverius Maarang menjelaskan, skema Open Sky ASEAN tidak secara otomatis memberikan akses kepada seluruh bandara untuk membuka rute internasional langsung.

“Dalam skema Open Sky ASEAN, tidak semua bandara bisa langsung membuka rute internasional. Ada bandara tertentu yang memang menjadi pintu utama,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Tarakan yang tengah mendorong pengembangan ekspor langsung ke berbagai negara tujuan. Keterbatasan akses penerbangan internasional dinilai masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi efisiensi distribusi komoditas ekspor dari wilayah perbatasan.

Meski demikian, Bandara Juwata terus melakukan penguatan layanan melalui sistem Facilitation (FAL) yang mengintegrasikan layanan Customs, Immigration, Quarantine (CIQ) sebagai penunjang operasional penerbangan internasional.

“Di bandara ini kami mengenal CIQ, yaitu Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina. Selain itu ada flight approval dan security clearance untuk mendukung operasional penerbangan internasional,” jelas Daverius.

Upaya percepatan layanan juga dilakukan melalui sinergi lintas instansi. Bandara Juwata bersama Bea Cukai, Karantina, dan Pelindo telah menyusun standar operasional prosedur (SOP) bersama, termasuk penerapan sistem joint inspection guna mempercepat proses ekspor.

“Kami bersama Bea Cukai, Karantina, Bandara, dan Pelindo sudah membentuk SOP bersama. Ini untuk mempercepat proses dan memotong dwelling time,” katanya.

Menurut Daverius, hasil dari kolaborasi tersebut mulai terlihat. Proses penerbitan dokumen karantina kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 50 menit sejak permohonan diajukan hingga dokumen diterbitkan.

“Di karantina itu sudah ada SLA, kurang dari 50 menit sudah selesai, mulai dari permohonan sampai dokumen terbit, termasuk pemeriksaan,” ungkapnya.

Percepatan layanan ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi rantai logistik. Waktu pengiriman komoditas hasil laut yang sebelumnya dapat mencapai sekitar 30 jam akibat penggunaan rute tidak langsung, kini berpotensi dipangkas secara signifikan melalui skema penerbangan langsung.

Selain meningkatkan efisiensi distribusi, pengembangan ekspor langsung juga dinilai memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah. Aktivitas perdagangan yang sebelumnya tidak tercatat secara optimal dapat masuk ke dalam sistem resmi sehingga berkontribusi terhadap penerimaan negara dan daerah.

“Dengan ekspor ini berjalan, maka devisa tercatat, pajak masuk, dan aktivitas ekonomi yang sebelumnya tidak tercatat bisa masuk ke sistem resmi,” jelasnya.

Daverius menekankan, keberhasilan pengembangan ekspor di wilayah perbatasan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga koordinasi dan kolaborasi yang kuat antarinstansi.

“Diperlukan koordinasi antarinstansi agar proses ekspor tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling melengkapi dalam satu sistem layanan,” tegasnya.

Saat ini, Bandara Juwata Tarakan masih terus melakukan penguatan fungsi sebagai bandara internasional yang kembali aktif. Berbagai penyesuaian operasional dan upaya memperluas akses penerbangan internasional terus dilakukan untuk mendukung posisi Tarakan sebagai gerbang ekspor strategis di kawasan perbatasan Indonesia.

“Penguatan akses penerbangan internasional menjadi bagian penting untuk memperkuat posisi Tarakan sebagai penghubung ekspor di wilayah perbatasan,” pungkasnya. (rz)

Back to top button