EKONOMIKALTARATARAKAN

Cabai dan Bawang Merah Picu Inflasi Kaltara

TARAKAN – Lonjakan harga cabai rawit dan bawang merah akibat terbatasnya pasokan menjadi pemicu utama inflasi di Kalimantan Utara (Kaltara) sepanjang Juni 2026. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kaltara mencatat inflasi gabungan tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 0,45 persen secara bulanan (month to month/mtm), dengan tekanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltara Reza Hidayat mengatakan, kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah menjadi penyumbang inflasi terbesar bulan ini. Selain itu, kelompok transportasi juga memberi andil setelah adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Green sejak 10 Juni 2026.

“Inflasi Kalimantan Utara pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,45 persen secara bulanan. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya cabai rawit dan bawang merah, serta kelompok transportasi, terutama bensin,” ujar Reza.

Ia menjelaskan, terbatasnya pasokan menjadi penyebab utama kenaikan harga kedua komoditas tersebut. Produksi cabai lokal menurun, sementara distribusi bawang merah dari daerah sentra, seperti Sulawesi Selatan, belum berjalan optimal sehingga harga di pasar melonjak.

Secara spasial, seluruh kota IHK di Kaltara mengalami inflasi. Tanjung Selor mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,67 persen (mtm), disusul Kota Tarakan 0,45 persen (mtm) dan Kabupaten Nunukan 0,37 persen (mtm). Meski demikian, inflasi tahunan Kaltara masih terkendali di angka 3,30 persen (year on year/yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen (yoy).

BI juga mencatat sejumlah faktor yang menahan laju inflasi, di antaranya penurunan tarif angkutan laut berkat diskon tiket kapal ekonomi sebesar 30 persen pada periode 20 Juni hingga 15 Agustus 2026, turunnya harga telur ayam ras karena pasokan yang mencukupi, serta koreksi harga emas perhiasan mengikuti pelemahan harga emas global.

Di tengah tekanan inflasi, optimisme masyarakat tetap terjaga. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kaltara yang mencapai 117,74 pada Juni 2026, didorong meningkatnya konsumsi selama libur sekolah.

BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menegaskan akan terus memperkuat sinergi menjaga stabilitas harga, ketersediaan pasokan, serta daya beli masyarakat. (rz)

Back to top button