TARAKAN – Cuaca ekstrem disertai angin kencang dalam dua hari terakhir memicu rentetan kejadian di Kota Tarakan. Sebanyak 13 pohon tumbang, dua titik longsor, dan empat rumah warga mengalami kerusakan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan menilai karakteristik akar pohon yang dangkal menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko tumbang.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep mengungkapkan, mayoritas pohon di Tarakan tidak memiliki akar tunggang yang kuat karena berasal dari proses pembibitan. Akibatnya, sistem perakaran cenderung berada di permukaan tanah dan kurang mampu mencengkeram secara optimal.
“Tanaman di Tarakan ini umumnya tidak memiliki akar tunggal karena berasal dari pembibitan. Kebanyakan hanya memiliki akar serabut di bagian atas permukaan tanah. Ketika pohon semakin besar dan terkena angin kencang, bebannya menjadi lebih berat sehingga lebih mudah tumbang,” ujar Yonsep, Jumat (24/7/2026).
Ia menjelaskan, risiko pohon tumbang tidak hanya terjadi pada pohon tua. Bahkan pohon yang masih muda pun bisa roboh apabila pertumbuhan bagian atas tidak seimbang dengan kekuatan akar.
“Bukan hanya pohon tua. Ada juga yang masih muda karena akarnya tidak masuk terlalu dalam. Kalau dipupuk terus dan tumbuh subur, berat pohon juga bertambah sehingga ketika terkena angin lebih mudah tumbang,” jelasnya.
Dari data BPBD, jenis pohon yang paling banyak tumbang didominasi mangga dan sengon, yang dikenal memiliki tajuk lebat dan beban cukup berat saat diterpa angin.
Dalam dua hari terakhir, kejadian pohon tumbang tersebar di sejumlah wilayah, khususnya di Juata Laut dan Juata Permai. Dari total 13 kejadian, sebanyak 10 pohon ditangani langsung oleh BPBD, sementara tiga lainnya ditangani relawan Kolaborasi Aksi Kemanusiaan (Kolakar).
“Yang kita tangani itu ada 10, yang Kolakar ada tiga. Kejadiannya berada di sekitar fasilitas umum di Juata Laut dan Juata Permai akibat cuaca ekstrem yang disertai angin kencang,” katanya.
Selain itu, dua kejadian longsor dilaporkan terjadi di kawasan Kampung 6 dan Karang Anyar. Sementara empat rumah warga mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap akibat terpaan angin.
BPBD telah memberikan bantuan darurat berupa terpal kepada warga terdampak, sembari berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penanganan lanjutan.
“Sementara ini kami memberikan terpal untuk penanganan awal. Untuk tindak lanjutnya, sudah kami koordinasikan dengan Perkim agar bisa dilakukan penanganan terhadap rumah warga yang mengalami kerusakan,” ujarnya.
Yonsep mengingatkan, potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga menjelang musim kemarau. Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap angin kencang yang kerap terjadi tanpa disertai hujan lebat.
“Cuaca ekstrem ini masih akan terus terjadi sampai sebelum masa kekeringan. Masyarakat harus tetap berhati-hati karena cuaca ekstrem bukan hanya hujan, tetapi juga termasuk angin kencang,” tegasnya.
BPBD juga memetakan sejumlah wilayah rawan pohon tumbang, seperti kawasan Gunung Selatan dan jalur menuju Juata yang dipenuhi pohon besar di tepi jalan.
“Yang paling rawan itu daerah Gunung Selatan karena banyak pohon-pohon tua di pinggir jalan. Untuk wilayah kota, arah menuju Juata juga perlu diwaspadai,” ungkapnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk melakukan pemangkasan dahan secara mandiri guna mengurangi beban pohon, serta segera melaporkan pohon yang miring atau berpotensi tumbang kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Kalau ada pohon yang sudah miring atau membahayakan, segera koordinasikan dengan DLH. Jangan menunggu sampai tumbang karena bisa membahayakan masyarakat maupun pengguna jalan,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi kejadian lanjutan, BPBD Tarakan memastikan seluruh personel siaga 24 jam. Sebanyak 16 personel kebencanaan disiapkan untuk merespons cepat jika terjadi kondisi darurat.
“Untuk personel kami sudah standby. Di kantor ada petugas piket, dan kalau terjadi kejadian seluruh tenaga kebencanaan akan kami kerahkan,” kata Yonsep.
Ia juga mengingatkan potensi angin puting beliung yang biasanya terjadi pada Agustus dan Desember, meskipun angin kencang yang terjadi belakangan ini dipastikan bukan puting beliung.
“Yang terjadi kemarin bukan puting beliung, hanya angin kencang seperti badai dalam skala kecil. Tetapi potensi puting beliung tetap perlu diwaspadai,” jelasnya.
Yonsep mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan aktivitas di luar ruangan saat cuaca memburuk. “Kalau cuaca sudah ekstrem, jangan memaksakan diri tetap beraktivitas di tempat terbuka. Lebih baik berhenti sementara dan mencari tempat aman sampai kondisi kembali normal,” pungkasnya. (rm)

