TARAKAN – Pembenahan Pelabuhan Tengkayu I Tarakan dimulai dari perkara yang tampak sederhana, rompi awak kapal. Seragam khusus itu disiapkan untuk memudahkan penumpang dan petugas mengenali awak kapal sekaligus memperkuat budaya keselamatan di kawasan pelabuhan.
Kepala Pos Pelabuhan Tengkayu I Tarakan Abdul Rahman mengatakan, rompi akan dikenakan seluruh awak kapal, termasuk nakhoda dan anak buah kapal (ABK). Penyediaannya dipelopori Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap).
Menurut Abdul Rahman, sebelumnya awak kapal telah memiliki seragam berupa kemeja. Namun, seiring waktu, kondisi seragam tidak lagi seragam. Sebagian lusuh, pudar, tidak digunakan, bahkan hilang.
“Memang sebelumnya sudah pernah memiliki baju seragam. Namun, seiring berjalannya waktu, ada yang sudah lusuh, pudar, tidak digunakan lagi atau mungkin hilang. Jadi rompi ini untuk merefresh sekaligus memberikan identitas bahwa ketika terlihat rompi, itu awak kapal,” ujar Abdul Rahman.
Rompi tersebut menjadi bagian dari gagasan menjadikan Pelabuhan Tengkayu I sebagai Port Safety Green. Konsep ini menggabungkan keselamatan, kebersihan, dan kenyamanan lingkungan pelabuhan.
Abdul Rahman mengatakan, pembenahan tidak harus dimulai dengan proyek besar. Identitas awak kapal, kebersihan, ketertiban, dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat dinilai sebagai langkah awal yang lebih realistis.
“Konsepnya Port Safety Green, jadi pelabuhan yang safety, bersih dan segar lingkungannya. Tidak perlu bermimpi membuat sesuatu yang besar, hal-hal kecil saja dulu untuk membuat pelabuhan kita bersih, aman dan nyaman,” katanya.
Pembenahan berikutnya menyasar kebiasaan merokok di area gate keberangkatan dan kedatangan. Sosialisasi larangan merokok di kawasan tersebut akan didorong, terutama karena aktivitas bongkar muat barang masih kerap dilakukan bersamaan dengan kebiasaan merokok.
Abdul Rahman menilai pengaturan itu bukan untuk menghilangkan hak perokok. Persoalannya adalah menyediakan ruang yang tepat agar asap rokok tidak mengganggu pengguna jasa lain, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.
“Bukan berarti kita merampas hak perokok. Tetapi merokok harus di tempat yang tidak merugikan orang lain. Saya juga melihat ada buruh yang mengangkat barang sambil merokok dan rokoknya diletakkan sembarangan,” ujarnya.
Selain ketertiban, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat juga akan diuji. Pelabuhan Tengkayu I direncanakan menggelar drill pemadaman kebakaran dan man overboard, yakni simulasi ketika seseorang jatuh ke laut.
Latihan itu ditujukan untuk menyegarkan kembali kemampuan awak kapal dan pihak terkait dalam mengambil tindakan cepat ketika terjadi keadaan darurat.
“Rencananya nanti ada drill pelatihan pemadaman dan man overboard. Jadi ketika terjadi kebakaran atau ada orang jatuh ke laut, awak kapal maupun siapa saja yang ada di pelabuhan bisa langsung melakukan tindakan,” kata Abdul Rahman.
Ia menegaskan, budaya keselamatan tidak dibangun hanya melalui fasilitas besar. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, menurut dia, justru dapat membentuk kebiasaan baru di lingkungan pelabuhan.
“Minimal hal-hal kecil ini dulu yang dilakukan. Supaya awak kapal lebih mudah dikenali, pelabuhan lebih bersih, aman dan nyaman. Kesiapan menghadapi kondisi darurat juga harus terus direfresh, sehingga ketika ada kejadian kita sudah tahu tindakan yang harus dilakukan,” tutupnya.
Pembenahan tersebut didorong melalui kolaborasi dengan Gapasdap dan pihak pengelola pelabuhan. Adapun pengelolaan Pelabuhan Tengkayu I berada di bawah kewenangan Dinas Perhubungan Provinsi. (rz)