KALTARAEKONOMITARAKAN

Industri Pengolahan Jadi Motor Baru Ekonomi Kaltara

TARAKAN – Industri pengolahan mulai menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara). Pada triwulan II 2026, sektor ini tumbuh 28,06persen secara tahunan dan menyumbang 2,49 poin terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Capaian itu kontras dengan sektor pertambangan yang justru memberikan kontribusi negatif 0,47 poin.

Secara keseluruhan, ekonomi Kaltara tumbuh 4,96 persen pada triwulan II 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan sepanjang 2025 yang mencapai 4,56 persen, meski masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltara Agus Taufik mengatakan, lonjakan industri pengolahan ditopang peningkatan produksi kayu serta mulai masuknya produksi aluminium dari tenant di kawasan Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI).

“Industri pengolahan tumbuh 28,06 persen. Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan produksi kayu dan mulai masuknya komoditas aluminium dari tenant di KIPI,” kata Agus.

Menurut dia, produksi aluminium menjadi perkembangan penting karena membuka sumber pertumbuhan baru berbasis pengolahan. Kaltara tidak lagi hanya mengandalkan penjualan komoditas mentah, tetapi mulai meningkatkan nilai tambah melalui kegiatan industri.

Produksi aluminium di KIPI juga diperkirakan terus meningkat. Kondisi itu dinilai berpotensi memperkuat kontribusi industri pengolahan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltara ke depan.

“Produksi aluminium ke depan masih akan meningkat. Ketika produksinya bertambah, aktivitas industri pengolahan juga akan semakin besar,” ujarnya.

Meski demikian, pertambangan masih menjadi salah satu sektor terbesar dalam struktur ekonomi Kaltara dengan porsi 22,52 persen. Sektor tersebut disusul pertanian 16,73 persen dan perdagangan 13,94 persen.

Besarnya ketergantungan terhadap pertambangan membuat ekonomi Kaltara relatif sensitif terhadap perubahan harga komoditas global. Pada triwulan II 2026, kondisi itu tercermin dari kontribusi sektor pertambangan yang berada di zona negatif.

Sebaliknya, industri pengolahan justru menjadi salah satu sumber pertumbuhan utama. Agus menilai perkembangan aluminium di KIPI berpotensi menciptakan efek lanjutan terhadap sektor lain, mulai dari aktivitas produksi hingga kegiatan ekonomi penunjang.

“Aluminium ini menjadi komoditas baru bagi Kaltara. Kalau produksi terus meningkat, aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan industri tersebut juga berpotensi ikut berkembang,” katanya.

Dengan peningkatan produksi kayu dan ekspansi aluminium, BI melihat prospek industri pengolahan masih cukup kuat. Jika kapasitas produksi terus bertambah, kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian Kaltara diperkirakan semakin besar. (rz)

Back to top button