TANJUNG SELOR – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai “menyerang” anak-anak di Tanjung Selor. Demam, batuk-pilek hingga keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mulai dikeluhkan warga. Kondisi ini membuat orang tua waswas karena kualitas udara terus memburuk.
Rere (26), salah seorang ibu di Tanjung Selor mengaku anaknya mulai mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar asap. Kondisi tubuh anaknya menurun disertai demam serta batuk-pilek.
“Sangat mengkhawatirkan. Anak saya sekarang kena dampaknya. Imunnya turun sampai panas dan batuk pilek. Polusi udaranya memang terasa sekali membahayakan kesehatan anak-anak,” ujar Rere saat ditemui di area pelayanan kesehatan.
Keluhan serupa juga mulai terlihat di fasilitas kesehatan. Sejumlah puskesmas di Tanjung Selor dipadati orang tua yang membawa anak berobat. Keluhan yang muncul didominasi gangguan pernapasan dan gejala lain yang dikhawatirkan berkaitan dengan paparan asap.
Situasi tersebut membuat masyarakat mendesak penanganan karhutla dipercepat. Bukan hanya api yang harus dipadamkan, tetapi juga dampak asap yang mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.
“Semoga bencana asap ini cepat teratasi dan tidak ada lagi anak-anak yang terkena dampak polusi udara yang makin buruk ini,” harapnya.
Untuk mengurangi paparan asap, aktivitas belajar mengajar juga dialihkan melalui kebijakan Belajar dari Rumah (BDR). Kebijakan tersebut diterapkan pada jenjang PAUD hingga SMP sebagai langkah antisipasi selama kondisi udara belum membaik.
Sebelumnya, keluhan influenza di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bumi Rahayu Bulungan, meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Di Agustus 2026 lalu, jumlah kunjungan pasien dengan keluhan sesak nafas mencapai 94 kasus, naik dari 61 kasus pada periode sebelumnya.
Kepala UPTD Puskesmas Bumi Rahayu, Catrice Sheyang mengatakan, peningkatan terlihat dari perbandingan data kunjungan pada 1–9 Agustus dan 10–22 Agustus 2026. “Ada peningkatan untuk kasus ISPA sesuai dengan kunjungan ke Puskesmas tanggal 1–9 dan 10–22,” ujar Catrice, Senin (31/8/2026).
Pada periode 1–9 Agustus, tercatat 61 kasus influenza. Angka itu bertambah menjadi 94 kasus pada 10–22 Agustus. Artinya, terdapat tambahan 33 kasus dalam rentang waktu yang lebih panjang tersebut.
Catrice mengatakan, peningkatan gangguan saluran pernapasan dapat dipicu berbagai faktor. Paparan polusi dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu kemungkinan, terutama ketika kualitas udara menurun. “Kini ISPA semakin meningkat khususnya bagi anak-anak, disebabkan juga banyak dari terpaparnya polusi. Banyak kemungkinan, asap karhutla hanya salah satunya saja,” katanya.
Ia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kelompok rentan seperti bayi, balita, dan lanjut usia. Warga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak untuk menekan risiko terpapar polutan yang dapat mengganggu saluran pernapasan.
Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan. “Selalu gunakan masker bila harus beraktivitas di luar rumah,” ujar Catrice. (rk)

