KALTARANUNUKAN

Nunukan di Garis Perbatasan, TNI AL Diminta Waspadai Ancaman Tanpa Tembakan

NUNUKAN – Perang di laut tak selalu diawali tembakan. Di wilayah perbatasan Nunukan, ancaman bisa datang lewat serangan siber, perang informasi, penyelundupan hingga aktivitas greyzone yang bergerak di antara damai dan konflik.

Kondisi itu membuat TNI Angkatan Laut dituntut mengubah cara menghadapi ancaman. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menegaskan, prajurit tidak boleh menghadapi tantangan masa depan dengan pola pikir masa lalu.

Pesan tersebut disampaikan Danlanal Nunukan Kolonel Laut (P) Slamet Ariyadi dalam peringatan HUT ke-81 TNI AL Tahun 2026, Sabtu (12/9/2026).

Menurut KSAL, dinamika geopolitik global bergerak semakin cepat. Persaingan antarnegara kian tajam, sementara kepentingan berbagai negara semakin banyak beririsan di wilayah laut.

“Dinamika geopolitik di berbagai kawasan semakin kompleks dan memanas,” ujar Slamet.

Situasi tersebut membuat batas antara kondisi damai, krisis dan konflik semakin sulit dibedakan. Ancaman terhadap negara tidak selalu muncul dalam bentuk perang terbuka, tetapi dapat bergerak melalui perang informasi, serangan siber, gangguan infrastruktur, tekanan ekonomi hingga aktivitas greyzone.

Perubahan teknologi juga ikut menggeser pola operasi militer. Kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, sensor, senjata jarak jauh, pengolahan data dan sistem informasi kini menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman.

“TNI Angkatan Laut harus terus bertransformasi dan berinovasi tanpa henti. Kita tidak boleh menghadapi tantangan masa depan dengan cara berpikir masa lalu,” tegasnya.

Transformasi tersebut, kata KSAL, tidak cukup hanya dengan memperbarui alat utama sistem senjata (alutsista). Pembangunan kekuatan harus berjalan bersamaan dengan peningkatan kualitas prajurit, pembaruan doktrin dan organisasi, penguatan sistem komando dan kendali, infrastruktur informasi serta kemampuan logistik.

Alutsista modern, lanjutnya, tidak akan cukup tanpa prajurit yang kompeten dan sistem yang mampu menjamin keberlanjutan operasi.
Spektrum ancaman juga semakin luas. Perubahan iklim, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, erupsi gunung api hingga berbagai bencana dapat mengganggu rantai pasok, distribusi logistik dan memicu krisis sosial.

Karena itu, seluruh prajurit dan alutsista TNI AL dituntut selalu siap dikerahkan. Kesiapsiagaan tidak hanya untuk menghadapi ancaman keamanan, tetapi juga merespons kondisi darurat yang berdampak langsung kepada masyarakat.

Dalam arahannya, KSAL memberikan tiga penekanan utama, yakni kesiapsiagaan operasi, profesionalisme prajurit dan penguatan sinergi.
Kesiapsiagaan operasi diarahkan agar setiap satuan mampu menjalankan tugas secara profesional dan efektif di seluruh spektrum operasi. Profesionalisme mencakup disiplin, integritas, kehormatan serta kemampuan menjaga citra TNI AL.

Sementara sinergi diperkuat melalui kerja sama internal TNI AL, interoperabilitas antar-matra TNI, kolaborasi dengan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah hingga kemanunggalan dengan masyarakat.

TNI AL juga diminta mempertahankan kinerja dalam menggagalkan penyelundupan narkotika, memberantas illegal fishing, serta mengamankan sumber daya alam strategis dan ruang laut sebagai bagian dari kedaulatan negara.

Bagi Lanal Nunukan, arahan tersebut memiliki relevansi kuat. Berada di kawasan perbatasan, pengawasan laut tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dan keamanan, tetapi juga aktivitas ekonomi, perlindungan sumber daya laut dan stabilitas wilayah.

Ancaman di kawasan perbatasan pun tidak selalu berbentuk kapal atau aktivitas militer. Pergerakan barang ilegal, penyelundupan, gangguan terhadap sumber daya laut hingga informasi yang dapat memicu keresahan masyarakat menjadi bagian dari tantangan yang harus diantisipasi.

Kehadiran TNI AL juga diarahkan tidak hanya ketika ancaman muncul. Melalui program “Aku Cinta Laut”, jajaran TNI AL didorong menjaga lingkungan maritim sekaligus memperkuat hubungan dengan masyarakat pesisir.

Di Nunukan, rangkaian HUT ke-81 TNI AL telah dimulai sejak 6 September melalui sejumlah kegiatan sosial. Di antaranya bersih pantai, bakti sosial, bakti kesehatan dan pembagian makanan bergizi.

Dari rangkaian kegiatan tersebut, Lanal Nunukan berhasil mengumpulkan 23 kantong darah, memberikan pemeriksaan kesehatan kepada sekitar 50 orang, menyalurkan 150 paket sembako serta membagikan 100 paket makanan bergizi.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi kehadiran TNI AL di tengah masyarakat. Kesiapsiagaan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menghadapi ancaman, tetapi juga kecepatan negara hadir ketika masyarakat membutuhkan.

“Jaga laut kita bersama dari hulu sungai sampai laut lepas. Jangan sampai sejengkal wilayah perairan luput dari pengawasan TNI Angkatan Laut,” pungkasnya. (ryn)

Back to top button