EKONOMIKALTARANUNUKAN

Dari Rp32 Ribu ke Rp20 Ribu, Harga Rumput Laut Nunukan Ambruk

NUNUKAN – Produksi rumput laut di Kabupaten Nunukan tengah melimpah. Namun, kondisi itu belum menjadi kabar baik bagi petani. Harga komoditas andalan pesisir tersebut justru merosot tajam, dari sebelumnya mencapai Rp32 ribu kini hanya berkisar Rp20 ribu per kilogram.

Penurunan harga mulai dirasakan petani sejak memasuki awal September 2026. Dalam hitungan beberapa pekan, harga rumput laut terkoreksi secara bertahap dari Rp27 ribu, turun menjadi Rp25 ribu, hingga kini berada di kisaran Rp20 ribu per kilogram.

Salah seorang petani rumput laut di Nunukan, Andis mengatakan, harga sepanjang awal tahun hingga penghujung Agustus masih relatif tinggi. Saat itu, harga berada pada rentang Rp29 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram.

“Mulai masuk akhir Agustus harga mulai terkoreksi dan terus mengalami pelemahan,” ujar Andis, Selasa (15/9/2026).

Jika dibandingkan dengan harga tertinggi sebelumnya, penurunan tersebut mencapai sekitar 37,5 persen. Ironisnya, pelemahan harga terjadi ketika produksi rumput laut justru sedang berlimpah.

Menurut Andis, tingginya produksi tidak serta-merta meningkatkan pendapatan petani. Harga di tingkat pembelian menjadi faktor yang sangat menentukan keuntungan yang diterima setelah panen.

Selain kondisi pasar, kualitas hasil panen juga ikut memengaruhi harga. Masih ditemukan rumput laut yang dikirim petani dalam kondisi terlalu lembap, bahkan basah. Kondisi tersebut membuat kualitas komoditas menurun sehingga berdampak terhadap nilai jual.

Ketua Bidang Pemasaran Rumput Laut Perkumpulan Rumput Laut Nusantara (PRLN), Kamaruddin mengatakan, persoalan pascapanen perlu menjadi perhatian petani.

Menurutnya, kadar air merupakan salah satu aspek penting yang harus dijaga sebelum rumput laut dipasarkan. Idealnya, kadar air berada pada kisaran 37 hingga 39 persen.

“Petani perlu memproses dulu hasil panennya supaya kadar airnya sesuai. Dengan begitu, harga yang diterima juga bisa lebih baik,” jelasnya.

Kamaruddin menilai, perbaikan penanganan pascapanen menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan petani untuk mempertahankan nilai jual ketika harga pasar sedang tertekan.

Rumput laut dengan kualitas lebih baik juga dinilai lebih mudah memenuhi standar dan kebutuhan pembeli. Sebaliknya, hasil panen dengan kadar air terlalu tinggi berpotensi dihargai lebih rendah.

Di sisi lain, produksi rumput laut Nunukan memiliki pasar yang cukup luas. Komoditas tersebut tidak hanya diserap pasar lokal, tetapi juga dikirim ke sejumlah daerah di luar Kalimantan, seperti Surabaya dan Makassar.

Besarnya produksi dan luasnya jaringan pemasaran tersebut sebenarnya menjadi peluang bagi Nunukan untuk memperkuat rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.

Namun, peluang tersebut masih dibayangi persoalan harga dan kualitas hasil panen. Ketika produksi meningkat tanpa diikuti perbaikan kualitas serta penanganan pascapanen, melimpahnya pasokan justru dapat memberikan tekanan terhadap harga di tingkat petani.

“Yang penting kualitas hasil panen dan penanganan pascapanennya diperhatikan. Itu akan menentukan harga jual,” pungkasnya. (ryn)

Back to top button