UMUM

KONI Nunukan Dinilai Cuek Pada Aturan Organisasi, AFKAB Nunukan Memilih Sikap Ini…

NUNUKAN – Rasa penasaran masyarakat pecinta olahraga futsal terkait tidak dilibatkannya Asosiasi Futsal Kabupaten (AFKAB) Nunukan dalam turnamen Ramadan Cup belakangan ini akhirnya terjawab. Dalam keterangan resminya yang disampaikan pada Selasa 3 Maret 2026, AFKAB Nunukan mengaku memang tidak terlibat dalam kegiatan yang digarap oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nunukan, Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Nunukan dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Nunukan tersebut.

Tak hanya itu, AFKAB Nunukan juga membeberkan fakta bahwa kegiatan tersebut justru mendapatkan restu KONI Nunukan, sementara induk organisasi futsal di Nunukan, yakni AFKAB Nunukan hanya kebagian permintaan klarifikasi aparat keamanan, atlet futsal dan insan olahraga di Kabupaten Nunukan. Padahal, secara struktural dan fungsi organisasi, seharusnya kegiatan tersebut baru bisa jalan dengan rekomendasi AFKAB Nunukan.

Dari informasi yang didapatkan media ini, turnamen yang masih berlangsung tersebut sebenarnya akan digelar oleh AFKAB Nunukan dengan tajuk yang sama, yakni Ramadan Cup. Namun belakangan, kegiatan itu harus ditunda lantaran KONI Nunukan justru mendukung kegiatan yang digelar oleh organisasi lain daripada kegiatan yang sudah dimatangkan oleh AFKAB Nunukan.

Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) AFKAB Nunukan, Mardi ST. Kata dia, Ramadan Cup lahir dari jalur resmi bernama Rapat Kerja (Raker) AFKAB Nunukan. Tidak hanya Ramadan Cup, lanjut Mardi, dalam rapat kerja yang dianjurkan organisasi itu juga menyiapkan turnamen futsal Liga 1, Liga 2, dan Liga Pelajar.

“Ini bagian dari agenda resmi AFKAB Nunukan dalam program pembinaan dan kompetisi futsal daerah. Namun belakangan, kegiatan tersebut digelar pihak lain dan justru disokong penuh oleh KONI Nunukan,” sesalnya.

Meski demikian, Pengurus AFKAB Nunukan tetap berbesar hati sekaligus mengingatkan Pengurus KONI Nunukan soal pentingnya menjalankan aturan organisasi, termasuk melibatkan cabang olahraga dalam proses rekomendasi maupun koordinasi teknis.

“Dalam kondisi demikian, seolah-olah seluruh pengelolaan kegiatan olahraga cukup ditangani oleh KONI saja. Meskipun hal tersebut bukanlah sistem pembinaan olahraga yang ideal,” tekannya.

Soal ini, AFKAB Nunukan, papar Mardi, sebenarnya memiliki dasar kuat untuk bersikap tegas terhadap pelanggaran mekanisme rekomendasi. Namun, demi menjaga kondusifitas olahraga di Kabupaten Nunukan, pengurus AFKAB melalui rapat internal sepakat untuk tidak mempermasalahkannya dan mengapresiasi terselenggaranya turnamen tersebut.

“Meski demikian, AFKAB Nunukan menyayangkan adanya kesan cabang olahraga futsal tidak dilibatkan atau dianaktirikan dalam kegiatan yang berkaitan langsung dengan futsal,” imbuhnya.

Mardi pun berharap, kejadian serupa tidak kembali terjadi pada cabang olahraga lainnya di masa mendatang. Mardi pun kembali menegaskan, apabila di kemudian hari mekanisme organisasi kembali diabaikan, maka AFKAB Nunukan tidak akan tinggal diam.

“Kami tentu akan mengambil langkah organisasi sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

Lantas, apa fokus AFKAB Nunukan saat ini saat turnamen Ramadan Cup ‘milik’ pihak lain berlangsung? Mardi menyebut, saat ini AFKAB Nunukan terus fokus pada pembinaan atlet dan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Utara 2026 yang rencananya digelar di Kabupaten Malinau.

“Ini kami harus lakukan demi mengharumkan nama Kabupaten Nunukan melalui prestasi futsal,” pungkasnya. (2ku)

Show More
Back to top button