Puluhan Narapidana Lapas Ikut Paket A-C
TARAKAN — Puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan aktif mengikuti program pembinaan intelektual yang digelar di ruang perpustakaan, Rabu (22/4/2026) lalu.
Program yang diselenggarakan Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimaswat) tersebut menggandeng Yayasan Pendidikan Al Marhamah Kota Tarakan sebagai mitra pelaksana pendidikan nonformal.
Kegiatan yang diberikan meliputi Keaksaraan Fungsional, Pendidikan Kesetaraan Paket A, Paket B, Paket C, hingga berbagai pelatihan keterampilan lainnya. Program ini dilaksanakan rutin tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa, Rabu, dan Kamis.
Peserta program berasal dari beragam latar belakang, baik usia, tingkat pendidikan, maupun jenis perkara yang dijalani.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan menegaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan kepribadian di bidang intelektual yang bertujuan membekali warga binaan dengan pengetahuan dasar hingga menengah.
“Kami berupaya mewujudkan pembinaan intelektual yang inklusif bagi narapidana dan anak binaan. Program ini memastikan hak atas pendidikan tetap terpenuhi meskipun mereka sedang menjalani masa pidana,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan kesetaraan ini juga menjadi langkah mencegah anak putus sekolah sekaligus mendukung Program Prioritas Nasional 2026 yang berfokus pada pendidikan bermutu untuk semua.
Dalam pelaksanaannya, Yayasan Al Marhamah turut menyediakan kebutuhan pembelajaran seperti alat tulis kantor (ATK), tenaga pengajar, serta sistem pembelajaran sesuai kurikulum yang berlaku.
“Kolaborasi ini penting agar proses pembelajaran berjalan optimal, baik dari sisi materi, tenaga pengajar, maupun fasilitas pendukung,” lanjutnya.
Program pendidikan nonformal di dalam lapas ini juga menjadi bagian dari implementasi Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) RI, khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan bagi narapidana dan anak binaan.
Melalui program tersebut, pemerintah mendorong pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat reintegrasi sosial warga binaan setelah bebas nanti.
Selain itu, pembinaan intelektual juga diharapkan mampu menekan angka residivisme dengan memberikan bekal pendidikan dan keterampilan yang relevan bagi para peserta. (rz)