TANJUNG SELOR – Komitmen memperkuat kualitas pendidikan yang inklusif dan responsif gender di Kabupaten Bulungan kembali ditegaskan lewat kunjungan perwakilan Kedutaan Besar Australia. Melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) bersama tim Strategy Testing Exercise (STE), rombongan menggelar diskusi strategis dengan jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan di Ruang Rapat Bupati, Senin (04/5/2026).
Pertemuan ini menjadi forum penting untuk menerjemahkan kebijakan nasional, terutama terkait kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan di sektor pendidikan, serta layanan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas agar dapat diimplementasikan secara efektif di tingkat daerah.
Diskusi turut dihadiri Ms. Susan McGowan dari Independent Strategic Advisory Team (ISAT), yang memberikan perspektif berbasis praktik lapangan guna memperkuat arah kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Kedutaan Besar Australia menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Pemkab Bulungan. Mereka menilai komitmen pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan berbagai program kolaborasi, termasuk program INOVASI (Inovasi untuk Anak Indonesia) yang telah berjalan di Kalimantan Utara (Kaltara).
“Kami sangat menghargai sambutan luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Bulungan. Kolaborasi seperti ini menjadi fondasi penting agar program yang kami dukung benar-benar berdampak,” ujar perwakilan DFAT.
Sebagai bagian dari agenda, rombongan dijadwalkan mengunjungi SDN 015 Tanjung Selor pada Rabu mendatang. Kunjungan ini terkait pelaksanaan program INOVASI Fase 3, sekaligus menjadi momentum evaluasi capaian serta pemetaan tantangan ke depan.
Bupati Bulungan, Syarwani menyambut baik kunjungan tersebut dan menegaskan bahwa kerja sama dengan Pemerintah Australia telah memberikan dampak nyata, terutama dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan inklusif dan kesetaraan gender.
Ia mengungkapkan, sejumlah kemajuan mulai terlihat, seperti peningkatan kapasitas guru dalam menerapkan metode pembelajaran adaptif serta berkembangnya praktik pendidikan yang lebih adil dan tanpa diskriminasi.
Meski demikian, Syarwani mengakui masih ada tantangan yang harus dihadapi, mulai dari aspek kebijakan hingga keterbatasan sumber daya di lapangan.
“Melalui forum ini, kami berharap dapat terus memperoleh masukan konstruktif dan merumuskan langkah strategis untuk memperkuat implementasi pendidikan inklusif di Bulungan,” ujarnya.
Pemkab Bulungan, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendorong pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas. Kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, serta pemenuhan hak pendidikan bagi anak penyandang disabilitas menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
Sinergi dengan mitra internasional seperti Pemerintah Australia diharapkan terus berlanjut, guna memperkuat fondasi pendidikan dan mencetak generasi Bulungan yang unggul, inklusif, dan berdaya saing di masa depan. (rm)

