TARAKAN – Setelah dua bulan inflasi, Kota Tarakan kembali mencatat deflasi pada April 2026 sebesar 0,06 persen (month to month). Penurunan harga komoditas pangan yang signifikan mampu menahan tekanan kenaikan tarif transportasi.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, mengatakan penurunan harga terjadi tidak merata. “Secara umum memang terjadi penurunan harga pada April, tetapi tidak merata. Ada komoditas yang justru mengalami kenaikan, seperti angkutan udara dan tomat,” ujarnya.
Menurutnya, deflasi dipicu dominasi penurunan harga pangan, terutama cabai rawit, daging ayam ras, dan emas perhiasan, yang lebih kuat dibanding tekanan inflasi dari transportasi.
“Penurunan harga pada kelompok pangan cukup dominan, sehingga mampu menahan laju inflasi secara keseluruhan,” jelasnya.
Secara kelompok, transportasi menyumbang inflasi terbesar 0,17 persen, disusul makanan dan minuman/restoran 0,03 persen. Sebaliknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menahan inflasi dengan deflasi 0,19 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya deflasi 0,12 persen.
Secara kumulatif, inflasi Tarakan hingga April 2026 sebesar 1,00 persen (year to date), dengan inflasi tahunan 2,90 persen.
Umar menyebut pergerakan inflasi mulai kembali normal setelah efek basis rendah awal tahun memudar.
“Memasuki April, efek tersebut sudah mulai hilang sehingga inflasi kembali ke pola normal,” katanya.
Ke depan, inflasi diperkirakan tetap terkendali di kisaran 2,9 persen jika pola harga tidak berubah signifikan. “Jika pola musiman tidak jauh berbeda, inflasi hingga akhir tahun masih dalam rentang terkendali,” tambahnya.
Secara regional, inflasi bulanan Kaltara tercatat 0,02 persen dengan tahunan 2,68 persen, sementara nasional 0,13 persen dan 2,42 persen. BPS menilai stabilitas harga masih terjaga, meski fluktuasi pangan dan transportasi tetap perlu diwaspadai. (rz)

