EKONOMIKALTARATARAKAN

Ekonomi Kaltara Tumbuh 5,23 Persen, Investasi dan Infrastruktur Jadi Penopang Utama

TARAKAN – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara) justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Pada triwulan I 2026, ekonomi provinsi termuda di Indonesia ini tumbuh solid sebesar 5,23 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong derasnya investasi dan geliat pembangunan infrastruktur.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Hasiando Ginsar Manik mengatakan, capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa fondasi ekonomi daerah masih cukup kuat menghadapi tekanan eksternal.

“Ekonomi Kaltara tetap tumbuh tinggi pada triwulan I 2026, yaitu sebesar 5,23 persen secara tahunan,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, dari sisi lapangan usaha, sektor konstruksi dan perdagangan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di awal tahun.

Masifnya pembangunan infrastruktur, pengembangan kawasan industri, serta meningkatnya aktivitas distribusi barang dan jasa turut menjaga momentum pertumbuhan.

“Lapangan usaha konstruksi dan perdagangan masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltara pada awal tahun ini,” jelasnya.

Selain itu, dari sisi pengeluaran, investasi dan kinerja net ekspor juga menunjukkan tren positif. Tingginya realisasi investasi dinilai sejalan dengan percepatan pembangunan kawasan industri dan proyek strategis nasional di Kalimantan Utara.

“Kondisi investasi di Kaltara masih cukup baik dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah,” ucapnya.

BI juga melihat peluang pertumbuhan ekonomi Kaltara ke depan masih terbuka lebar. Pengembangan hilirisasi industri, khususnya aluminium, serta hilirisasi sektor pangan dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan daya saing daerah.

“Kami melihat masih ada ruang pertumbuhan ekonomi yang cukup besar, terutama dari pengembangan hilirisasi industri dan sektor pangan di Kalimantan Utara,” jelas Hasiando.

Meski demikian, ia mengingatkan sejumlah tantangan tetap perlu diantisipasi, mulai dari ketidakpastian global, tensi geopolitik, hingga potensi perang dagang yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan perdagangan daerah.

Selain itu, ketergantungan terhadap pasokan barang dari luar daerah juga menjadi perhatian, terutama dalam menjaga kelancaran distribusi dan stabilitas harga.

Karena itu, BI menekankan pentingnya penguatan sektor produksi lokal serta sinergi lintas sektor untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.

“Sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi penting agar momentum pertumbuhan ekonomi Kaltara tetap kuat dan berkelanjutan,” tutupnya. (rz)

Back to top button